Selasa, 14 April 2020

Menulis Opini Harus Gagasan Orisinil


Oleh : Abdul Azis Muslim
Tulisan yang baik dan orisinal menjadi salah satu syarat jika ingin tulisannya bisa dimuat di majalah suara guru yang dikelola oleh PB PGRI. Salah satu satu bentuk tulisan tersebut adalah opini. Opini intinya gagasan penulis atas kebijakan atau fakta pendidikan yg terjadi. Dengan demikian opini tidak akan kehilangan topik sehingga kebijakan dan fakta pendidikan akan selalu hadir.
Majalah Suara Guru (SG) PGRI sendiri usianya sudah puluhan tahun setua PGRI. Tulisan dari guru yang masuk ke majalah SG bisa dimuat dalam bentuk offline maupun online. Majalah SG dicetak sebanyak 5 ribu lembar dan didistribusikan ke 34 propinsi se-Indonesia. apa saja syaratnya kita bisa menbgirimkan artikel ke redaksi majalah guru? Syaratnya yaitu menyebutkan status dan foto. Rubrik yang dikelola Majalah SG yaitu Opini. Resensi. Sastra. Destinasi. Dll. Temanya difokuskan ke bidang pendidikan yang menjadi ladang perjuangan PGRI.
Pengiriman artikel ke SG PGRI bisa dikirim ke email majalah.suaraguru@gmail.com. Penulis yang sudah mengirim naskah kemajalah ini dilarang untuk mengirim naskah ke majalah atau media lain sehingga tidak terjadi benturan kepentingan.
Untuk bisa menulis memang perlu latihan yang banyak. Jam terbang menjadi faktor yang harus diperhitungkan. Penulis pemula tidak perlu takut untuk menulis. Agar bisa bagus tulisannya, seorang penulis pemula juga bisa belajar dari tulisan-tulisan yang beredar di media nasional yang sudah teruji validitasnya misalnya di detik.com
Rangkuman tulisan di atas merupakan hasil diskusi dengan Dr. Jejen Musfah Pemimpin Redaksi Majalah Suara Guru PB PGRI dalam Pelatihan Menulis Bagi Guru yang difasilitasi PGRI bersama dengan Omjay. Sukses terus PGRI. Bravo.





Menghayati Peran Sebagai Pendidik, Kunci Sukses Haji Encon Rahman Gupres Nasional 2016


Oleh : Abdul Azis Muslim

Penghargaan merupakan buah dari kerja keras. Jika sesuatu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan senang hati maka segala hambatan akan teratasi bahkan ganjaran berupa prestasi juga menjadi buah dari kesungguhan tersebut. Hal ini juga yang menjadi kunci sukses Haji Encon Rahman salah seorang guru di SDN Mekarwangi Jawa Barat.
Berkat kegigihan dalam mendidik anak didiknya Bapak Encon mendapatkan predikat sebagai guru berprestasi tingkat nasional yang dianugerahkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 2016. Capaian ini bertambah dengan dianugerahkankan  penghargaan Princess  Mahacakri Award (PMA) oleh Kerajaan Thailand.
Untuk menjadi guru berprestasi tidak mudah. Tapi salah satunya yang patut menjadi renungan dari beliau adalah adanya rasa menghayati dan mencintai profesi guru. Dengan kesadaran dalam dan rasa  cinta kepada anak didiknya sehingga mengantarkan pria rendah hati ini menjadi guru teladan bagi yang lain.
Selain itu, menjadi guru yang sukses menurut guru Matematika, Sains dan Ilmu Sosial ini kuncinya adalah mampu menjadi teladan dalam mendidik orang dan mampu mengubah kehidupan seseorang menjadi orang yang sukses. Guru yang bersangkutan wajib menjadi inspirasi guru lain dalam dunia pendidikan.
Guru juga harus mampu menginspirasi dan mampu menghadapi tantangan serta mencari solusi yang dihadapi siswa. Tidak kalah pentingnya seorang pendidik mampu menjadi inovasi dalam proses pembelajaran sehingga bisa meningkatkan mutu pendidikan.
Menjadi guru berprestasi lebih-lebih tingkat nasional tidak hanya sekedar mengajar dan mendidik. Encon Rahman menghasilkan banyak karya yang dipublikasikan di koran dan jurnal pendidikan, menulis artikel pendidikan, menulis buku teks, menulis makalah hasil penelitian di kelas,  menggambar kartun untuk, pembicara di berbagai pelatihan standard dan pelatihan kurikulum, mentor pengajaran, ia mengembangkan pengajaran dengan membuat PTK, ia sering mengunjungi siswa dan mencari solusi, penelitian di kelas agar dapat memahami permasalahan dengan cara mengunjungi siswa di rumah. Kemampuan menggambar karikatur digunakan untuk pembelajaran 
Lomba guru berprestasi bukan hanya ada di Indonesia tetapi lomba ini juga diterapkan di negara-negara lain termasuk di Asia tenggara. Itulah sebabnya pemerintah setiap tahun selalu mengadakan lomba gupres. Lomba gupres termasuk ajang berprestasi dan bergengsi bagi seorang guru
Kenapa dikatakan demikian karena penilaian gupres lebih komprehensif dan menyeluruh dari berbagai faktor. Sebagaimana kita ketahui di dalam undang-undang nomor 14 tahun 2005 jabatan guru itu adalah profesi Seorang guru harus memiliki jabatan profesional di mana jabatan ini mencakup 7 M yaitu mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, mengajar, mengevaluasi. Apabila guru tidak memiliki ranah 7M ini maka akan menjadi pertanyaan besar karena guru adalah seorang professional.
Pada sisi lain pemerintah selalu mengadakan lomba gupres baik dari tingkat jenjang satuan pendidikan TK, SD, SMP, SMA diantaranya memiliki tujuan. 1. Mengangkat guru sebagai profesi terhormat mulia bermartabat dan terlindungi , 2. Meningkatkan motivasi dan profesionalisme guru dalam pelaksanaan tugas profesionalnya, 3. Meningkatkan persaingan yang sehat selalu pemberian penghargaan di bidang pendidikan, 4. Membangun komitmen mutu guru dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran menuju standar nasional pendidikan. Dengan mengacu kepada  tujuan pemilihan gupres di atas maka kegiatan ini rutinitas diselenggarakan setiap tahunnya
Adapun rahasia sukses menjadi gupres hanya dua saja. Ini adalah video penghargaan dari PMCA ketika sy menjadi penerima guru internasional di Thailand. Satu memiliki amalan batiniah. Kedua memiliki amalan lahiriyah. Ingin tahu lebih lanjut. Silahkan klik https://youtu.be/FWBFNVvHi-8. 



Sabtu, 11 April 2020

Semangkuk Mie Ayam dan Kisah Dibaliknya


Oleh: Abdul Azis Muslim*



Jangan dikira jika Anda makan semangkuk mie ayam di sebuah warung hanya sekedar makan. Banyak guratan cerita yang menyertainya. Kisah sedih, haru, senang dan membanggakan juga tidak lepas dari penjual dan peracik mie ayam yang  menjual dagannya disebuah warung.

Sekilas jika mampir ke warung mie ayam memang yang sering diceritakan orang tentu kelezatannya. Ada kalanya mienya dikritik karena masih setengah matang sehingga dilidah tidak nyaman. Ada juga menyoal bagaimana rasa ayamnya yang biasa saja karena masih kurang bumbunya. Ada pula yang menyindir bahwa mie ayamnya kuahnya kurang mantap sehingga mengurangi selera. Bahkan terkadang hal sepele misalnya kurangnya sawi yang dituangkan ke mangkuk tidak luput menjadi kritikan terhadap mie ayam yang kita makan.

Sah-sah saja sebagai pembeli kita ingin menikmati rasa masakan yang hendak dibeli. Tapi terkadang kita lupa bahwa kita juga harus menghargai karya orang lain. Bagaimana memanusiakan manusia dengan cara yang sederhana yaitu menikmati mie ayam sambil membayangkan bagaimana perasaan penjualnya. Ya, dengan cara inilah kita bisa menghargai orang lain dan merasakan empati orang lain.

Menyajikan mie ayam tidak mudah. Mulai menyiapkan bahan ayam yang berkualitas, mie yang enak, sawi yang masih segar dan rempah-rempah rahasia didalamnya. Jangan dikira setelah bahan-bahan terkumpul dan dimasak langsung menjadi mie ayam yang lezat. Ternyata berbagai perasaan yang menyertai pemasaknya tentu tidak bisa dilepaskan dari lezat tidaknya sebuah masakan yang bernama mie ayam maupun masakan lain. Bahkan ada pepatah bahwa perasaan pemasak mempengaruhi hasil masakan. Boleh sama masakannya maupun bumbu-bumbunya tapi untuk hasil masakan setiap orang pasti berbeda. Salah satu katanya karena adanya perasaan si pemasaknya. Ternyata susah juga membuat mie ayam ya. Berbagai interaksi rasional dan irasional tercampur menyatu didalamnya.

Untuk mencari mie ayam yang lezat bagi sebagian orang barangkali mudah. Lihatlah pembeli di sebuah warung yang menjajakannya. Jika pembelinya membludak maka layak disebut bahwa mie ayam di tempat tersebut enak. Sebaliknya jika ada warung yang menjual mie ayam sepi maka lebih baik menghindarinya karena kemungkinan rasanya tidak enak. Namun tahukah kita sebagai pembeli bahwa ada sejarah panjang dibalik mie ayam yang melegenda.

Ternyata banyak jalan liku dan terjal menyertai proses membuat mie ayam yang enak dan lezat. Bagaimana proses pertama kali membuat mie ayam yang kemungkinan rasanya masih belum mantap. Ada proses pantang menyerah dibalik kesuksesan usaha mie ayam. Ada tetesan keringat dan air mata. Ada kesedihan dan deraian air mata yang tidak pernah kita ketahui. Yang kita ketahui hanya menikmati rasanya bahkan memikirkan keuntungan yang berlipat-lipat dan terkadang iri bahwa usaha mie ayam di warung si A sukses dan besar. Tapi apakah Anda pernah membayangkan bagaimana proses panjang terjadi didalamnya. Begitu juga dengan hidup ini jangan melihat hasilnya tanpa melihat proses yang menyertainya. Akhirnya semoga kita bisa menjadi manusia yang selalu bersyukur di tengah segala kondisi yang ada. Salam literasi.

*Penulis mengabdi di SMP Negeri 1 Wedung Kabupaten Demak



Selasa, 07 April 2020

Menulis Tanpa Ide. Bisakah???


Bagaimana menentukan tulisan itu menarik atau tidak? Mudah. Tulisan yang bagus adalah yang mampu menggugah emosi pembacanya..Inilah rangkuman dari master menulis Budiman Hakim (Om Bud) dalam pelatihan menulis Online yang dilaksanakan PGRI yang digawangi Omjay.

Cara menilai tulisan bagus cuma dengan satu pertanyaan apakah buku kita mampu membuat pembaca tertawa terbahak-bahak. Artinya ketika orang menangis atau tertawa terbahak-bahak maka disitulah saat tulisan kita mampu menggugah emosi pembacanya. Kesimpulannya adalah ketika kita menulis sebuah cerita, kita wajib memasukkan unsure emosi dalam cerita itu. Sayangnya dalam pelaksanaannya tidak semudah itu.

Seringkali ketika kita ingin menulis seringkali kita gak punya ide.. Orang mengistilahkan kondisi ini dengan writers’ block.

Nah untuk mengantisipasi hal ini ada dua hal yang bisa kita lakukan. Pertama manfaatkan emosi. Caranya tuliskan semua perubahan emosi dalam kehidupan kita sehari-hari. Metode ini disebut cerpenting singkatan dari cerita pendek tidak penting.

Cepenting adalah metode menuliskan peristiwa remeh yang terjadi disekliling kita. Meskipun ceritanya sepele tapi ternyata kita tertawa atau terharu atas peristiwa tersebut. Dengan kata lain emosi kita tergugah. Cari cerita yang paling remeh tapi bikin kita tertawa, marah dan terharu. Pokoknya semua rasa yang menggugah emosi kita. Misalnya kita lagi naik motr terus kehabisan bensin sementara kita juga lupa bawa duit karena gak sempet ke ATM.

Jika kita sudah terbiasa menulis cerpenting maka kita akan selalu mendapat pemicu untuk menulis. Ya pastilah topic sepele aja kita mampu . Itu poinnya.

Menulis itu persis kayak memasak supaya tambah enak tambahkanlah bumbu-bumbu.

Kedua, metode yang kedua adalah memancing emosi. Dari emosi yang kita dapat bisa kita konversikan menjadi ide.

Pernah kalian mendengar orang ngomong “jangan tunggu kaya lalu berderma. Berdermalah dulu maka insyaAllah kita akan menjadi kaya”…”jangan menunggu bahagia lalu baru tersenyum. Tersenyumlah maka kebahagiaan akan datang padamu.” ..“Jangan menunggu ide datang lalu baru menulis. Menulislah dulu maka ide akan datang padamu,”. Sering kan kita mendengar orang ngomong begini “gue sih may nulis tapi belum ada ide nih. Nah itu keliru. Itu salah. Salah besar!!!

Perlu saya tekankan bahwa ide itu gak boleh ditunggu. Ide itu harus dipancing. Persoalannya cara mancingnya bagaimana? Caranya begini coba perhatikan sekeliling kalian. Lalu tuliskan benda-benda yang kita tangkap melalui panca indera. Kemudian gabungkan dan susun semua benda tadi menjadi satu kesatuan dalam beberapa kalimat. Dengan menuliskan apa yang ditemukan oleh pancaindera tulisan tersebut akan berfungsi menjadi pemicu supaya ide datang.

Asep saat itu sedang berada di kamarnya dan berniat hendak menulis sesuatu. Tapi sayangnya kang Asep idenya lagi mandeg. Asep duduk di depan laptopnya yang sudah menyala sejak tadi tapi masih saja kosong tanpa satupun huruf di atasnya.

Asep memandang ke sekeliling kamar dan mengamati benda apa saja yang terdapat di kamarnya. Setelah itu dia menuliskan benda-benda yang ditemukannya. Benda-benda tersebut adalah 1. Printer. 2. Kertas. 3. Dinding. 4. AC. 5 Jam.6. Laptop.

Setelah itu, asep mulai mengetik. Dia menyusun kalimat yang menghubungkan semua benda tadi. Dan beginilah hasilnya :

Printer warna hitam didepanku menungguiku kaku, ditemani Kertas-kertas kosong yang berserakan disekitarnya. Aku lihat jam dinding tampak pucat, barangkali kedinginan karena berjam-jam disembur AC yang begitu angkuh/ Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Tai layar laptopku masih juga kosong, Dan hingga detik ini tak satupun ide bergairah menghampiri.

Asep mengaku belum mempunyai ide untuk menulis tapi dia telah memiliki sebuah tulisan yang sangat bagus. Luar biasa bukan?Satu hal yang perlu dicatat bahwa Asep baru memanfaatkan indera penglihatan. Baru dari mata doing Asep telah membuat sebuah tulisan yang bagus hanya dengan mengandalkan matanya. Padahal kita masih mempunyai indera penciuma, pendengaran, pengecapan dan peraba sebagai device untuk bereksplorasi.

Semua yang ditangkap pancaindera sangat berpotensi untuk membuat tulisan pemancing ide. Misalnya kentongan satpam yang kompleks yang sedang memukul tiang listrik (pendengaran), bau indomie yang sedang dimasak teman-teman kos kita (penciuman), rasa kopi yang ternyata sudah kedaluarsa (pengecapan), rasa jijik ketika seekor kecoak berjalan di atas kaki kita (perabaan).

Meskipun belum mempunyai ide. Nyalakanlah laptop kalian. Duduk didepannya. Buka software words. Taruh jari jemari kalian di atas tuts seakan-akan kalian sudah mendapat ide untuk ditulis. Intinya adalah biasakan menulis dulu tanpa perlu menunggu ide datang. Cara menulis seperti itu adalah cara untuk memancing ide datang. Ketika ide sudah terjaring barulah kita kemas menjadi tulisan yang menarik. Silahkan kalian mempraktikkan metode ini. Karena sebuah metode sulit dipahami kalau tidak dipraktikkan. Luar Biasa!!!

Senin, 06 April 2020

Dasar-Dasar Menulis Yang Enak


Menulis ternyata tidak semudah dibayangkan. Harus mengerti dan memahami seluk beluk tata cara penulisan yang sesuai dengan keinginan. Beberapa hal yang perlu dipahami seorang penulis diantaranya adalah kata, kalimat dan paragraf. Berikut beberapa ulasan menulis yang disampaikan oleh Imam Fitri Rahmadi seorang dosen di Universitas Pamulang.
Elemen yang harus dimengerti dulu agar tulisan bisa diterima oleh pembaca tidak terlepas dari pemilihan kata yang disesuaikan dengan tujuan dan konteks penulisan. Unsur tersebut dikenal dengan sebutan diksi. Menurut beliau diksi sangat penting sekali sebagaimana dalam makanan dikatakan apakah tulisan seseorang enak dan tidak enak dibaca ya tergantung pemilihan kata.
Ada tiga ranah yang dipakai saat penggunaan diksi. Pertama ranah personal. Kedua, ranah formal. Ketiga, ranah akademik. Ranah personal sifatnya santai dan cenderung tidak menggunakan bahasa yang baku sebagaimana ranah formal dan ranah akademik. Sementara ranah formal secara implisit sudah mengatur penggunaan kata yang sudah baku. Terakhir, penggunaan diksi dalam ranah akademik, penggunaan katanya lebih rigid dan tidak sembarangan.
Contoh penggunaan diksi tergambar dalam kalimat dibawah ini :
Ibu guru sedang ngobrol-ngobrol dengan kepala sekolah.
Ibu guru sedang berbincang-bincang dengan kepala sekolah.
Ibu guru sedang berdiskusi dengan kepala sekolah.
Pemilihan kata sangat menentukan rasa tulisan. Perihal pilihan kata yang tepat untuk menulis kalimat sesuai dengan tujuan dan konteks penulisan disebut dengan diksi. Antara penulisan personal, formal, dan akademik, diksi yang digunakan bisa sangat berbeda meskipun dimaksudkan untuk mengungkapkan atau menggambarkan hal yang sama.
Sebagai contoh, coba cermati tiga kalimat di bawah ini:
Ibu guru sedang ngobrol-ngobrol dengan kepala sekolah.
Ibu guru sedang berbincang-bincang dengan kepala sekolah.
Ibu guru sedang berdiskusi dengan kepala sekolah.
Menurutnya satu kata saja dapat mengubah rasa dari kalimat sehingga mengandung nilai yang berbeda pula. Antara ngobrol-ngobrol, berbicara, dan berdiskusi, ketiganya sama-sama menggambarkan proses bertukar informasi antara ibu guru dengan kepala sekolah. Namun, kata ngobrol-ngobrol terasa lebih personal, kata berbicara terasa lebih formal, sedangkan kata berdiskusi terasa lebih akademik.
Dalam bahasa Inggris dimudahkan karena sudah ada klasifikasi kelas yaitu general English dan academic English. Selain itu, terdapat banyak kamus yang khusus berisi kumpulan kosa kata akademik atau academic words. Sementara penggunaan diksi dalam bahasa Indonesia, sepertinya belum ada kamus khusus  sehingga mau tidak mau Anda sendiri yang harus cermat mempertimbangkan diksi pas jika ingin menggunakan diksi saat menulis lebih formal atau akademik.
Tips lain yang dibagikan Bapak Iman yaitu ketika menulis kalimat yang baik mesti menyesuaikan  dengan Subjek, Prediket, Objek, dan Keterangan (SPOK) sudah dipelajari sejak di bangku Sekolah Dasar (SD). Apakah anda masih ingat?
Jika masih ingat, berarti baru saja anda membayangkan sebuah kalimat sederhana atau tunggal yang setidaknya terdiri dari subjek dan predikat, seperti “saya membaca” atau yang lebih lengkap “saya membaca tulisan di blog.” Namun, yang selama ini jarang dipraktekkan dalam menulis, bahwa juga terdapat aneka bentuk kalimat majemuk yang perlu diterapkan dalam tulisan anda supaya tidak monoton dan lebih menarik untuk dibaca.
Terdapat 4 macam kalimat majemuk: setara, rapatan, bertingkat, dan campuran. Jujur saja, saya sendiri tidak pernah menerapkan keempat rumusan kalimat majemuk tersebut karena cukup rumit. Saya justru selalu menggunakan rumus yang saya dapat ketika belajar bahasa Inggris untuk keperluan akademik yang jauh lebih sederhana.
Kalimat sederhana:
Saya membaca tulisan di blog.
Kalimat sederhana ini bisa dikembangkan menjadi kalimat gabungan:
Saya membaca tulisan di blog untuk menambah pengetahuan tentang cara menulis kalimat.
Kalimat sederhana tersebut juga bisa dijadikan kalimat kompleks:
Saya membaca tulisan di blog ketika sedang bekerja dari rumah.
Satu lagi, kalimat gabungan dapat disatukan dengan kalimat kompleks yang kemudian disebut sebagai kalimat campuran:
Saya membaca tulisan di blog untuk menambah pengetahuan tentang cara menulis kalimat ketika sedang bekerja dari rumah.
Agar tidak menjemukan Bapak Iman mewajibkan saat menulis menerapkan variasi kalimat dalam setiap paragraph. Aneka kalimat ini berlaku untuk penulisan personal, formal, dan akademik.
Terkait paragraf secara umum menurut Bapak Imam  paragraf dibagi menjadi dua, yaitu paragraf deduktif dan induktif. Paragraf deduktif meletakkan gagasan utama pada kalimat pertama dalam paragraf dengan penjelasan dari umum ke khusus. Sedangkan paragraf induktif adalah sebaliknya; gagasan utama pada kalimat terakhir dalam paragraf degan penjelasan dari khusus ke umum. Nah, supaya tulisan enak dibaca dan mudah dipahami, sebaiknya gunakan jenis paragraf yang pertama.
Gagasan utama yang terletak pada kalimat pertama dalam sebuah paragraf memudahkan pembaca untuk langsung mendapatkan ide pokok paragraf di awal. Berbeda ketika gagasan utama diletakkan pada kalimat terakhir dalam sebuah paragraf, pembaca harus membaca sampai ujung paragraf dulu baru mendapatkan ide pokoknya. Lantas bagaimana caranya menyusun paragraf yang enak di baca dan mudah dipahami?
Sekarang saatnya menerapkan variasi kalimat dalam sebuah paragraf. Caranya sederhana untuk membuat paragraf yang enak di baca dan mudah dipahami: tulis kalimat topik dalam bentuk kalimat sederhana, baru kemudian lakukan variasi bentuk kalimat pada beberapa kalimat penjelasnya. Jadi, kalimat topik yang berlaku sebagai gagasan utama harus ditulis dalam bentuk sesederhana mungkin. Hindari menggunakan kalimat gabungan dan kompleks untuk menuliskan gagasan utama. Sebaliknya, lakukan aneka variasi kalimat pada beberapa kalimat penjelas dan diperhalus transisinya dengan konjungsi atau kata penghubung. Supaya lebih jelas, mari kita lakukan simulasi paragraf dengan menggunakan beberapa kalimat berikut:
Kalimat topik:
Bekerja dari rumah memiliki kekurangan dan kelebihan.
Beberapa kalimat penjelas:
Bekerja dari rumah menjadikan jadwal kerja tidak begitu jelas.
Karyawan harus membuat jadwal jam kerja sendiri.
Bekerja jadi tidak nyaman bagi yang memiliki rumah sempit.
Bekerja dari rumah justru waktu menjadi lebih fleksibel.
Lebih banyak waktu untuk keluarga.
Menghemat pengeluaran untuk biaya transportasi.
Menghemat biaya operasional kantor.
Apabila dijadikan satu paragraf yang semua merupakan kalimat sederhana, maka jadinya seperti ini:
Bekerja dari rumah memiliki kekurangan dan kelebihan. Bekerja dari rumah menjadikan jadwal kerja tidak begitu jelas. Karyawan harus membuat jadwal jam kerja sendiri. Bekerja jadi tidak nyaman bagi yang memiliki rumah sempit. Bekerja dari rumah justru waktu menjadi lebih fleksibel. Lebih banyak waktu untuk keluarga. Menghemat pengeluaran untuk biaya transportasi. Menghemat biaya operasional kantor.
Namun, jika anda melakukan variasi bentuk kalimat dan menambahkan beberapa konjungsi, menjadi lebih enak dibaca dan mudah dipahami seperti ini:
Bekerja dari rumah memiliki kekurangan dan kelebihan. Pada satu sisi, bekerja dari rumah menjadikan jadwal kerja tidak begitu jelas sehingga karyawan harus membuat jadwal jam kerja sendiri. Bekerja jadi tidak nyaman bagi yang memiliki rumah sempit. Pada sisi lain, bekerja dari rumah justru waktu menjadi lebih fleksibel dan lebih banyak waktu untuk keluarga. Selain itu, bekerja dari rumah bukan hanya dapat menghemat pengeluaran untuk biaya transportasi tetapi juga menghemat biaya operasional kantor.

Minggu, 05 April 2020

MENULIS DENGAN TOJTRP


Resume dari Penulis Man Jadda Wajada “Akbar Zainudin”
(oleh: Abdul Azis Muslim)

Apa yang disampaikan oleh Bang Akbar alumni Gontor terasa mudah dipahami dan realistis tapi jika dilaksanakan dalam realitas ternyata tidak mudah juga. Dengan singkatan “TOJTRP” Bang Akbar mampu menyederhanakan bagaimana menulis dengan mudah tapi rasional.

Pertama menurut beliau yaitu menentukan Tema (T). Menurutnya setiap buku pasti punya tema besar yang menjadi pedoman atau rel yang mengikat kita dari awal sampai akhir tulisan. Sehingga hukumnya wajib bagi seorang penulis untuk menentukan sebuah desain besar. Menurut saya tema bisa jadi view atau sudut pandang. Setiap penulis pasti mempunyai focus materi apa yang hendak ditulis. Tema yang disukai oleh Bang Akbar rata-rata berkisah tentang motivasi sebagaimana bukunya yang berjudul man jadda wajadda yang bermakna apa yang diusahakan itulah yang akan diraih. Berkat tulisannya yang luar biasa tersebut sehingga dia sanggup berkelana dari satu propinsi ke propinsi yang lain, hanya dengan bekal menulis suatu karya.
Langkah kedua yang harus dilakukan seorang penulis yaitu menentukan outline (O) atau bisa disebut daftar isi. Menurutnya outline mempunya kegunaan diantaranya mengarahkan tulisan agar tetap direl, sebagai bahan penyusunan target dan penyelesaian tulisan sehingga muaranya buku bisa selesai. Intinya outline membimbing dan memandu penulis kemana dan bagaimana tulisan bisa selesai dengan efektif dan efisien.
Langkah yang berikutnya yang wajib dilakukan seorang penulis agar sukses menulis yaitu menyusun jadwal (J) penulisan. Misalnya ada 30 judul artikel maka penulis sejak awal merencanakan dan menyusun dengan detail jadwal penulisan. Dengan menyusun jadwal bisa menjadi alat control dan evaluasi diri sejauhmana tulisan bisa selesai dengan target.
Lalu apa lagi setelah mempunyai jadwal? Langkah berikutnya yaitu tuliskan (T). Penulis harus segera menuliskan segala hal yang sudah direncanakan sebelumnya kedalam tulisan. Tulis, tulis dan tulis jangan takut salah. Pokoknya selesaikan semua tulisan sesuai dengan apa yang ada dalam benak kita.
Selanjutnya setelah semua tulisan selesai baru melaksanakan kegiatan berupa revisi (R). Draf buku yang sudah dibuat jangan lupa untuk direvisi. Apa to yang direvisi? yaitu draf buku yang sudah diselesaikan sebelumnya. Pertama adalah data dan informasi yang kurang. Kedua, tata bahasa sesuai dengan EYD. Ketiga, mengenai gaya tulisan harus disamakan dari awal sampai akhir. Terakhir, judul artikel juga jangan lupa dipilah dan dipilih mana yang menarik bagi pembaca.
Langkah terakhir yang tidak kalah penting dan wajib pula dilakukan seorang penulis yang ingin sukses yaitu mengirimkan naskah yang sudah jadi ke penerbit (P). Apa sih yang menjadi pertimbangan utamanya penerbit. Menurut beliau yang paling penting tentu saja laku atau tidak buku tersebut jika dicetak. Hal ini tentu saja menyangkut mengenai kebutuhan masyarakat pembaca. Apakah pembaca butuh kita?berapa banyak orang yang butuh?buku kita menjawab kebutuhan apa?. Semakin besar kebutuhan masyarakat akan buku kita maka peluang diterbitkan akan semakin besar pula. Maka lagi-lagi menurut Bang Akbar seorang penulis wajib memahami buku yang dibuat. Siapa yang akan beli buku kita dan siapa yang akan membaca karya kita tersebut.
Hal lain yang mesti diperhatikan seorang penulis adalah apa sih yang membedakan buku kita dengan buku sejenisnya. Maka seorang penulis harus mempunyai karakteristik yang unik sehingga mempunyai nilai tambah bagi karyanya tersebut.
Selain itu, penerbit juga akan mengeksplorasi kemampuan penulis sejauh mana mampu membantu pemasaran buku yang ditulis penulis tersebut. Hal ini juga harus menjadi pertimbangan seorang penulis jika hendak bekerjasama dengan penerbit.
Lantas apakah ketika kita hendak menerbitkan buku harus membayar? Menurut Bang Akbar, kita sebagai penulis tidak perlu membayar ke penerbit. Penulis bahkan mendapatkan royalty. Rata-rata royaltinya 10% dari angka penjualan buku yang terjual.
Lalu bagaimana caranya mengirim naskah? Pertama, naskah harus sudah jadi. Kedua, diprint kemudian dikirim dalam bentuk hardcopy dan softcopy dalam bentuk cd atau flashdisk. Kepastian dari penerbit diterima atau tidak sekitar 3 bulan.
Inti yang ingin disampaikan Bang Akbar dalam diskusi Minggu malam (5/4) adalah tentang jam terbang dan latihan untuk menulis secara terus menerus. Setiap hari menulis dan menulis membuat seorang penulis terasah untuk menemukan intuisi menulis yang bagus.
Dalam diskusi tersebut Bang Akbar juga memberikan tips dan trik untuk menulis naskah non fiksi maka ada tiga komponen yang mesti diperhatikan. Pertama, opening atau pendahuluan. Kedua, Isi naskah yang berisi teori-teori, peristiwa aktual, analisis terhadap peristiwa, tip and trik. Ketiga, kesimpulan dan penutup. Sementara, jika bentuknya tulisan maka memuat empat komponen utama. Pertama, tokoh. Kedua, karakter tiap tokoh. Ketiga. Alur atau plot cerita. Keempat, klimak dan ending cerita.
Tips lain yang dibagikan Bang Akbar, buku yang diterbitkan sekitar 100 halaman. Rata-rata dipasaran buku yang diterbitkan kisaran 200-300 halaman. Jika diukur dengan karakter sekitar 40.000-60.000 karakter.
Trik untuk membuat judul yang nendang menurut Bang Akbar yaitu pertama, judulnya harus provokatif misalnya “Kamu Gagal Terus?Ini cara praktis Lulus Ujian”. Kedua, judul jelas, tegas dan sederhana. Biasanya untuk buku judulnya sebanyak 3 kata. Ingin lebih jelas tentang cara menulis buku dan menerbitkannya. Ingin lebih paham yang disampaikan Bang Akbar. Silahkan bisa melihat disini videonya

Kesiapan Guru di Era Revolusi Industri 4.0.


Oleh: Abdul Azis Muslim, M.Pd.*

Tidak terasa kita sekarang di penghujung akhir industri 3.0 dan akan memulai perjalanan transisi menuju perubahan industri yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Revolusi industri ketiga telah mengubah wajah kehidupan kita sekarang ini. Manusia bisa menikmati hari dengan enjoy berkat bantuan teknologi canggih. Pintu-pintu terbuka dengan sendirinya. Tanpa kita lelah, bak air juga bisa terisi penuh cukup dengan menekan tombol on pompa air dan masih banyak lagi contoh produk revolusi industri ketiga.
Bayangkan jika kita akan berangkat menuju tempat kerja, kita tidak perlu bersusah payah memanggil sopir kita karena cukup dengan gawai, mobil tersebut sudah siap mengantar ke kantor. Selama diperjalanan, kita pun dengan leluasa mengakses informasi terbaru melalui layar kaca mobil anda. Dan hebatnya dengan santai anda bisa menikmati mobil tanpa goncangan berarti  dengan kemampuan oto-driving tanpa berhenti karena lampu lalu lintas. Inilah gambaran tentang “revolusi industri 4.0”. Lalu seperti apa kesiapan kita sebagai guru di masa super canggih itu?
Diakui atau tidak pendidikan tetaplah menjadi garda depan perubahan suatu bangsa. Susah untuk mengatakan bahwa pendidikan tidak penting. Dari sejumlah penelitian telah terbukti bahwa faktor pendidikan menentukan kemajuan dan kesuksesan suatu bangsa di dunia. Jepang dan Finlandia disebut-sebut menjadi negara yang sukses dalam mengembangkan sumber daya manusia melalui pemanfaatan proses pembelajaran.
Konon, pada saat kota Hiroshima dan Nagasaki  dihajar bom atom yang dijatuhkan tentara sekutu, Kaisar Hirohito bukan khawatir masalah kerusakan fisik yang timbul akibat bom tersebut, tetapi justru menanyakan berapa jumlah guru yang tersisa. Saat ada yang menjawab sekitar 250 ribu guru, Hirohito pun optimis bahwa Jepang bisa melalui situasi yang buruk dan akan menjadi bangsa yang disegani. Sebuah pilihan jitu yang terbukti sukses membawa negeri matahari tersebut menjadi negara kategori maju.
Maka tidak salah jika negara Jepang tidak terlalu lama untuk bisa melaju kencang dan menjadi salah satu ikon negara sukses dan hebat di dunia sekarang. Dari tangan-tangan guru itulah para pemimpin dan penerus bangsa dilahirkan. Dengan demikian hitam putihnya suatu bangsa secara tidak langsung ditentukan oleh sentuhan guru terhadap para pemudanya. Semakin berkualitas gurunya maka semakin berkualitas pemudanya. Maka benar sekali kata mutiara yang disampaikan oleh sahabat nabi Muhammad Ali bin Abi Thalib bahwa di tangan pemudalah kejayaan suatu kaum.
Seiring dengan batasan antar negara tidak lagi menjadi hambatan dengan hadirnya teknologi khususnya teknologi komunikasi yang sering disebut era globalisasi. Kondisi ini juga menjadi tantangan dan hambatan bagi guru di Indonesia.  Karena itu sudah menjadi keharusan zaman sekarang bahwa seorang guru di masa depan harus jeli dan cerdas mengikuti perkembangan yang terjadi jika tidak ingin profesi guru tergantikan oleh yang lain.
Suka tidak suka, zaman pasti berubah. Perubahan itu merupakan suatu keniscayaan. Prinsip dasar inilah yang harus menjadi panduan para pendidik sekarang. Kunci untuk menang dan sukses di era disruptif sekarang ini tidak lain adalah inovasi. Bagaimana seorang guru harus memacu dan memancing siswanya untuk berpikir kreatif dan inovatif.
Menurut Daniel Bell, kecenderungan di era globalisasi dunia ditandai dengan lima kecenderungan, antara lain: 1) integrasi ekonomi yang menyebabkan terjadinya persaingan bebas dalam segala bidang, terutama dalam dunia pendidikan. 2) fragmantasi politik yang menyebabkan terjadinya peningkatan tuntutan dan harapan dari masyarakat. 3) menggunakan teknologi tinggi (high technology) khususnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK). 4) interpendensi (saling tergantungan) yaitu suatu keadaan dimana seseorang baru dapat memenuhi kebutuhannya apabila dibantu oleh orang lain.
Pendidikan harus menjadi motor penggerak untuk menangkap zaman. Jangan sampai guru justru ditinggal oleh anak didiknya karena siswa sudah selangkah lebih mau dibandingkan dengan peserta didik. Maka untuk menghadapi era industri 4.00, kuncinya tidak lain adalah kesiapan guru untuk belajar dan beradaptasi dengan perubahan itu.
Guru harus belajar dengan cepat untuk menangkap aspirasi zaman yang terus bergerak. Revolusi industri 4.0 mensyaratkan peserta didik untuk bisa berdampingan dengan teknologi robot. Maka guru pun sudah mulai mengenalkan anak didiknya dengan hard skill dan soft skill. Kemampuandasar ituyang wajib dikenalkan kepada siswa kita diantaranya berpikir out of the box.
Mengenalkan anak didik dengan pola pikir non linier, bisa membantu siswa kelak setelah keluar dari ruang sekolah mampu mengatasi berbagai loncatan dan kejutan zaman. Mereka tidak asing dengan teknologi yang bergonta ganti. Prinsipnya, pendidikan harus memberikan pola dasar berpikir anak didik tidak monoton tapi dinamis dan progresif. Jangan lagi membatasi pemikiran anak dengan hal yang tidak rasional tapi pandulah anak didik kita menjadi manusia tanggap terhadap lingkungan.
Maka sudah sangat tepat sebetulnya pepatah orang Jawa yang mengatakan bahwa menungso (baca : manusi) ora oleh gumunan karo kagetan ( baca : terheran-heran dan terkejut). Maksudnya filosofi tersebut memberikan gambaran bahwa manusia tidak boleh terkejut dengan perubahan dan situasi yang terjadi karena perubahan pasti terjadi.
Maka jika seorang guru yang tidak mampu menangkap jaman yang terus berubah menuju era robotisasi, maka bersiaplah bahwa guru-guru di masa depan justru akan diisi oleh robot. Maka tidak ada jalan lain bagi para pendidik untuk terus mengasah skill, agar guru kelak selalu menjadi profesi abadi sepanjang masa. Guru terus dicintai dan dinantikan kehadirannya di kelas-kelas sambil tetap berdampingan dengan mesin-mesin otomatis.  Semoga.
*Penulis adalah Guru SMP Negeri 1 Wedung

Satu Hari Satu Artikel Mudah Kok!

Oleh:  Abdul Azis Muslim* Bagi orang yang tidak biasa menulis rasanya membayangkan judul di atas mungkin menyeramkan. Bagaimana bisa, m...