Minggu, 05 April 2020

Kesiapan Guru di Era Revolusi Industri 4.0.


Oleh: Abdul Azis Muslim, M.Pd.*

Tidak terasa kita sekarang di penghujung akhir industri 3.0 dan akan memulai perjalanan transisi menuju perubahan industri yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Revolusi industri ketiga telah mengubah wajah kehidupan kita sekarang ini. Manusia bisa menikmati hari dengan enjoy berkat bantuan teknologi canggih. Pintu-pintu terbuka dengan sendirinya. Tanpa kita lelah, bak air juga bisa terisi penuh cukup dengan menekan tombol on pompa air dan masih banyak lagi contoh produk revolusi industri ketiga.
Bayangkan jika kita akan berangkat menuju tempat kerja, kita tidak perlu bersusah payah memanggil sopir kita karena cukup dengan gawai, mobil tersebut sudah siap mengantar ke kantor. Selama diperjalanan, kita pun dengan leluasa mengakses informasi terbaru melalui layar kaca mobil anda. Dan hebatnya dengan santai anda bisa menikmati mobil tanpa goncangan berarti  dengan kemampuan oto-driving tanpa berhenti karena lampu lalu lintas. Inilah gambaran tentang “revolusi industri 4.0”. Lalu seperti apa kesiapan kita sebagai guru di masa super canggih itu?
Diakui atau tidak pendidikan tetaplah menjadi garda depan perubahan suatu bangsa. Susah untuk mengatakan bahwa pendidikan tidak penting. Dari sejumlah penelitian telah terbukti bahwa faktor pendidikan menentukan kemajuan dan kesuksesan suatu bangsa di dunia. Jepang dan Finlandia disebut-sebut menjadi negara yang sukses dalam mengembangkan sumber daya manusia melalui pemanfaatan proses pembelajaran.
Konon, pada saat kota Hiroshima dan Nagasaki  dihajar bom atom yang dijatuhkan tentara sekutu, Kaisar Hirohito bukan khawatir masalah kerusakan fisik yang timbul akibat bom tersebut, tetapi justru menanyakan berapa jumlah guru yang tersisa. Saat ada yang menjawab sekitar 250 ribu guru, Hirohito pun optimis bahwa Jepang bisa melalui situasi yang buruk dan akan menjadi bangsa yang disegani. Sebuah pilihan jitu yang terbukti sukses membawa negeri matahari tersebut menjadi negara kategori maju.
Maka tidak salah jika negara Jepang tidak terlalu lama untuk bisa melaju kencang dan menjadi salah satu ikon negara sukses dan hebat di dunia sekarang. Dari tangan-tangan guru itulah para pemimpin dan penerus bangsa dilahirkan. Dengan demikian hitam putihnya suatu bangsa secara tidak langsung ditentukan oleh sentuhan guru terhadap para pemudanya. Semakin berkualitas gurunya maka semakin berkualitas pemudanya. Maka benar sekali kata mutiara yang disampaikan oleh sahabat nabi Muhammad Ali bin Abi Thalib bahwa di tangan pemudalah kejayaan suatu kaum.
Seiring dengan batasan antar negara tidak lagi menjadi hambatan dengan hadirnya teknologi khususnya teknologi komunikasi yang sering disebut era globalisasi. Kondisi ini juga menjadi tantangan dan hambatan bagi guru di Indonesia.  Karena itu sudah menjadi keharusan zaman sekarang bahwa seorang guru di masa depan harus jeli dan cerdas mengikuti perkembangan yang terjadi jika tidak ingin profesi guru tergantikan oleh yang lain.
Suka tidak suka, zaman pasti berubah. Perubahan itu merupakan suatu keniscayaan. Prinsip dasar inilah yang harus menjadi panduan para pendidik sekarang. Kunci untuk menang dan sukses di era disruptif sekarang ini tidak lain adalah inovasi. Bagaimana seorang guru harus memacu dan memancing siswanya untuk berpikir kreatif dan inovatif.
Menurut Daniel Bell, kecenderungan di era globalisasi dunia ditandai dengan lima kecenderungan, antara lain: 1) integrasi ekonomi yang menyebabkan terjadinya persaingan bebas dalam segala bidang, terutama dalam dunia pendidikan. 2) fragmantasi politik yang menyebabkan terjadinya peningkatan tuntutan dan harapan dari masyarakat. 3) menggunakan teknologi tinggi (high technology) khususnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK). 4) interpendensi (saling tergantungan) yaitu suatu keadaan dimana seseorang baru dapat memenuhi kebutuhannya apabila dibantu oleh orang lain.
Pendidikan harus menjadi motor penggerak untuk menangkap zaman. Jangan sampai guru justru ditinggal oleh anak didiknya karena siswa sudah selangkah lebih mau dibandingkan dengan peserta didik. Maka untuk menghadapi era industri 4.00, kuncinya tidak lain adalah kesiapan guru untuk belajar dan beradaptasi dengan perubahan itu.
Guru harus belajar dengan cepat untuk menangkap aspirasi zaman yang terus bergerak. Revolusi industri 4.0 mensyaratkan peserta didik untuk bisa berdampingan dengan teknologi robot. Maka guru pun sudah mulai mengenalkan anak didiknya dengan hard skill dan soft skill. Kemampuandasar ituyang wajib dikenalkan kepada siswa kita diantaranya berpikir out of the box.
Mengenalkan anak didik dengan pola pikir non linier, bisa membantu siswa kelak setelah keluar dari ruang sekolah mampu mengatasi berbagai loncatan dan kejutan zaman. Mereka tidak asing dengan teknologi yang bergonta ganti. Prinsipnya, pendidikan harus memberikan pola dasar berpikir anak didik tidak monoton tapi dinamis dan progresif. Jangan lagi membatasi pemikiran anak dengan hal yang tidak rasional tapi pandulah anak didik kita menjadi manusia tanggap terhadap lingkungan.
Maka sudah sangat tepat sebetulnya pepatah orang Jawa yang mengatakan bahwa menungso (baca : manusi) ora oleh gumunan karo kagetan ( baca : terheran-heran dan terkejut). Maksudnya filosofi tersebut memberikan gambaran bahwa manusia tidak boleh terkejut dengan perubahan dan situasi yang terjadi karena perubahan pasti terjadi.
Maka jika seorang guru yang tidak mampu menangkap jaman yang terus berubah menuju era robotisasi, maka bersiaplah bahwa guru-guru di masa depan justru akan diisi oleh robot. Maka tidak ada jalan lain bagi para pendidik untuk terus mengasah skill, agar guru kelak selalu menjadi profesi abadi sepanjang masa. Guru terus dicintai dan dinantikan kehadirannya di kelas-kelas sambil tetap berdampingan dengan mesin-mesin otomatis.  Semoga.
*Penulis adalah Guru SMP Negeri 1 Wedung

Sabtu, 04 April 2020

Jangan Takut Menulis !

Belajar dari pengalaman guru penulis yang produktif Munif Chatib tidaklah sia-sia. Setiap pengalaman mengajar dituangkan dalam bentuk tulisan yang luar biasa. Pembelajaran yang menarik semakin luar biasa dituangkan dalam bentuk tulisan. 
Dari pembelajaran daring bersama beliau ada tiga hal yang bisa dirangkum oleh penulis 

  1.  Momen special saat mengajar menjadi ingatan yang tidak mudah dilupakan. Hal ini yang mendorong bagi guru sebagai kolam inspirasi untuk menulis.
  2. Momen istimewa terjadi saat proses KBM berlangsung karena itu dibutuhkan cara menyiasatinya agar tidak kehilangan feel menulis salah satunya segera mencatat atau merekam peristiwa yang terjadi sehingga menumbuhkan motivasi kuat menulis.
  3. Jangan takut salah untuk menuangkan tulisan karena semua itu membutuhkan proses yang panjang dan tidak asal jadi. lihat disini.

Kamis, 02 April 2020

Pentingnya Literasi Media Sosial Bagi Pelajar



Oleh : Abdul Azis Muslim, M.Pd.

Siapa sih yang tidak kenal media sosial disingkat medsos. Setiap orang rata-rata sudah mengenal dan menggunakannya. Karena kebutuhan, setiap orang setiap saat tidak terlepas yang disebut laptop maupun smartphone. Dengan alat canggih tersebut, setiap orang dengan bebas bisa melakukan aktivitas di medsos dengan bebas. Segala hal bisa diperoleh mulai informasi, hiburan hingga selfie. Kondisi ini juga berlaku dalam diri pelajar. Kebanyakan siswa sudah mengenal dan mengoperasikannya. Bahkan bisa dibilang kemampuan mereka dalam mengakses smarthphone cepat sekali.
Menurut data yang dirilis Kementerian Kominfo Tidak kurang 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet. Media digital saat ini menjadi pilihan utama saluran komunikasi yang mereka gunakan. Studi ini menelusuri aktivitas online dari sampel anak dan remaja usia 10-19 (sebanyak 400 responden) yang tersebar di seluruh negeri dan mewakili wilayah perkotaan dan perdesaan.
Sementara itu,  penelitian Rayna Lois Euunike  lebih dari 43 ribu media tersebar di seluruh Indonesia, tetapi hanya kurang dari 5.000 media dan situs daring online yang tercatat resmi dan memiliki keakuratan informasi yang diakui. Menurut penelitian ini, kebenaran penyebaran informasi atau berita di media sosial dipertanyakan sebab banyak dari berita tersebut hanya berisi pendapat dari orang yang membuatnya dengan maksud dan tujuan tertentu, bahkan dengan tujuan perpecahan.
Tentu saja kondisi tersebut mencemaskan kita. Bagaimana tidak saat ini masalah sosial yang tidak kalah berbahaya adalah penyebaran berita hoax. Jika dulu isu negatif menyebar melalui mulut ke mulut sehingga preventifnya bisa dilakukan dengan mekanisme manual. Seiring dengan arus informasi yang luar biasa berkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK), maka penanganannya tidak bisa sesederhana itu. Harus ada terobosan berani, salah satunya melalui upacaya pencegahan sejak dini. Salah satunya melalui literasi media sosial bagi kalangan pelajar.
Perlu kerja bareng untuk membendung ekses negatif dari penggunaan medsos yang saat ini menjamur melalui berbagai aplikasi. Pelajar menjadi komunitas yang tidak bisa diremehkan dalam pembangunan suatu bangsa. Merekalah yang menjadi tulangpunggung suatu bangsa dan peradabannya. Mereka saat ini menjadi mangsa empuk kelompok yang tidak bertanggungjawab seperti kawanan penyebar berita hoax semisal saracen.
Bagaimana jadinya jika dari 43 ribu media yang mayoritas tidak diketahui valid atau tidak karena tidak terakreditasi oleh kominfo, maka pelajar ini akan mendapatkan paparan negatif dari konten-konten yang menyebar itu. Maka literasi media menjadi suatu keharusan bagi kita semua, lebih-lebih tenaga pendidik agar anak bangsa bisa selamat dari ancaman medsos.
Senang atau tidak, serbuan media sosial sudah membanjiri negeri ini. Jika tanpa ada edukasi literasi media, pelajar justru akan jatuh ke perangkap informasi sesat atau sekarang ini yang lagi tren yaitu hoax. Maka harus ada pencerdasan golongan pelajar untuk tahu dan paham seluk beluk penyebaran informasi melalui jaringan sosial di dunia maya.
Menurut data Kominfo, ada tiga motivasi anak-anak dan remaja dalam mengakses internet yaitu mencari informasi, berhubungan dengan teman dan terakhir internet digunakan untuk hiburan. Pencarian informasi yang dilakukan sering didorong oleh tugas-tugas sekolah, sedangkan penggunaan media sosial dan konten hiburan didorong oleh kebutuhan pribadi.
Jadi sangat jelas sekali bagaimana peranan media sosial menjadi teman yang sangat akrab bagi pelajar. Fakta inilah yang harus menjadi tantangan guru dewasa ini. Guru selama ini yang dikenal sebagai panutan, dimana segala tindakannya menjadi teladan lama kelamaan akan sirna. Sementara, smartphone yang seharusnya hanya alat lama kelamaan menjadi kawan bahkan guru yang menjadi sumber referensi. Bahkan tidak menutup kemungkinan peran guru sebagai referensi keteladanan akan digantikan medos. Maka alangkah ironis jika guru jika di depan kelas hanya menjadi “tontonan”. Sementara medsos menjadi “tuntunan”. Maka sudah seharusnya seorang guru harus melek dengan teknologi informasi dan komunikasi termasuk melek terhadap smartphone dan medsos.
 Media sosial ibarat pisau bermata dua. Satu sisi pasti ada kelebihan diantaranya mempermudah dalam mendapatkan pengetahuan, informasi, jejaring sosial maupun kelebihan lainnya. Namun disisi lain tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial juga mengandung berbagai konten yang tidak baik mulai pornografi, kekerasan dan konten negatif lainnya.
Untuk mencegah dampak negatif dari medsos, setiap pendidik wajib melaksanakan literasi media sosial. Dimana siswa diberikan pemahaman yang benar bagaimana menggunakan medsos dengan baik dan bijaksana. Jangan sampai guru justru menjadi antipati terhadap siswa dalam memakai media sosial. Karena sekarang ini adalah era informasi digital, maka jika tidak diarahlan ditakutkan justru pelajar mencari sumber referensi lain yang bisa jadi justru salah.
Literasi media kepada siswa bisa melalui teori dan praktik. Teori bisa melalui penyampaian di dalam kelas di sela-sela mata pelajaran inti karena sekarang ini pembelajaran TIK include menjadi satu dengan semua mapel. Maka untuk teori mengenai pemanfaatan media yang sehat bisa tiap guru mapel menyisipkannya ke dalam mapel. Sementara untuk praktik pemanfaatan medsos yang sehat dan cerdas, seorang guru bisa melalui penugasan. Siswa disuruh mencari berbagai informasi yang positif dengan memakai media sosial. Paling tidak mereka diajari bertanggungjawab terhadap diri sendiri. Untuk mengurangi dampak negatif, guru BK juga bisa melakukan konseling secara pribadi dengan siswa maupun bekerjasama dengan orang tua siswa untuk memanfaatkan medsos dengan baik dan bijak. Selamat melaksanakan literasi medsos bagi peserta didik kita.

*Aktif mengajar di SMPN 1 Wedung-Kabupaten Demak

Rabu, 04 September 2019

Hasil Review di Portal Rumah Belajar.ID


Hasil Review di Portal Rumah Belajar.ID Kategori Literasi
Oleh : Abdul Azis Muslim

Apa yang didalam portal Rumah Belajar.ID kategori literasi sungguh bagus. Didalamnya berisi berbagai inovasi pembelajaran di pelosok nusantara luar biasa bagus karena didalamnya mengandung berbagai macam inovasi pembelajaran yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Inovasi yang beragam di seluruh pelosok penjuru tanah air memberikan semacam motivasi dan semangat bagi guru dan pendidik di seluruh Indonesia. Sayangnya masih ada kelemahan yang penulis jumpai berupa kurang menariknya icon kategori maupun pelabelan yang tidak representative serta menonjol, sehingga bagi mereka yang baru masuk dan melihat, kurang tertarik untuk menjelajahi kategori dan isinya.

Saran penulis ke depan kalau bisa rumah belajar.id dikembangkan lebih sistematis dan integrative serta menarik tampilannya sehingga menggugah selera orang untuk mau masuk dan membaca lebih dalam apa yang terkandung didalamnya. Rumah belajar id menawarkan pembelajaran masa depan karena semua orang bisa belajar dimananapun dan kapanpun.

Yang paling keren lagi semua orang bisa menjadi guru dan murid. Semua bisa saling berbagi pengalaman dengan leluasa. Semua hal bisa dishare kepada semua orang di seluruh Indonesia bahkan bisa diakses ke seluruh dunia. Inilah ciri abad pembelajaran abad 21 yang menekankan 4 pondasi dasar yaitu 4C yaitu kritis, komunkatif, kolaborasi atau kerjasama serta kreativitas.  Kita bisa belajar dari apa yang kita pelajari dan kemudian kita bisa berbagi dari apa yang kita punyai. Saya yakin banyak pembaca yang searching untuk mempelajari portal rumahbelajar.id. Lihat disini.



Hasil review di Portal rumahbelajar.id  Kategori Sejarah

Oleh Abdul Azis Muslim

Ketika pembaca masuk ke web rumah belajar kategori sejarah, penuis awalnya kurang tertarik karena kurangnya pemahaman mengenai apa yang ditampilkan. Jika hanya mengandalkan video rasanya kurang puas sebagai pembaca. Paling tidak seharusnya kalau mau menarik pembaca, pengelola web bisa membuat tampilan menarik berupa tulisan ilmiah mengenai sejarah misalnya sejarah masjid-masjid tua di Indonesia. Referensi yang kuat dan sempurna makin membuat feature ini seharusnya bagus dan bisa menarik berbagai kalangan untuk masuk ke web rumah belajar kategori sejarah.

Untuk keunggulan pada kategori ini berupa banyak nya materi video sejarah berbagai peninggalan di Indonesia sehingga masyarakat Indonesia bisa mengenal lebih dekat mengenai situs-situs bersejarah dan layak untuk dibaca maupun diteliti lebih jauh.  Jika video dan tulisan dipadukan serta ditampilkan tanggapan dari responden maka situs ini bisa dibaca banyak orang dari berbagai penjuru tanah air bahkan luar negeri untuk mencari dan mengetahui tentang keragaman budaya dan aneka peninggalan sejarahnya.

Pembaca berkunjung ke situs yang dimaksud karena mereka menganggap web tersebut memberikan kebutuhan bagi pengakses. Salah satu alasan mengapa pengunjung membuka web tidak lain mereka dengan mudah segera paham dengan isi yang ditampilkan dalam situs yang dicari. Maka adanya fitur berupa tulisan pengantar menjadi hal yang penting dan tidak diabaikan begitu saja oleh pengelola web. Tulisan yang dibuat pengelola juga harus sesuai EYD dan menarik. Memang sulit untuk merangkai kata yang membuat betah pengunjung di halaman situs. Karena itu sedini mungkin pengeloa berupaya menampilkan tulisan pengantar yang berbobot dan menyenangkan.

Disamping itu dalam rumah belajar.id, pengelola harus memiliki tujuan jelas. Hal ini dibaca dari isi halaman yang ditampilkan pengelola harus relevan dengan tujuan yang hendak dicapai. Dari hasil review, penulis melihat sebetulnya isi halaman memang bagus namun kurang diimbangi dengan tulisan sebagai pengantar sebelum pembaca masuk dan mengklik video dalam tema sejarah maupun tema-tema lain yang disajikan pengelola.

Update data dari penelusuran ke rumah belajar.id sudah berjalan bagus.. Berbagai kajian dan tema juga sudah tampak dilakukan pengelola. Sebagai web yang difungsikan sebagai rumah belajar bersama konten yang dikelola pengelola web sudah mencerminkan hal tersebut. Berbagai kreasi dan inovasi dari seluruh nusantara ditampilkan dengan menarik. Demikian ulasan yang bisa penulis sampaikan sebagai bahan perbaikan ke depan. Tetap jaya rumahbelajar.id. semangat !!

Hasil review Rumah Belajar.Id di atas merupakan tugas dalam rangka memenuhi Vicon Batch 5 102 Demak dengan menggunakan aplikasi google translate. Untuk lebih mantap mengetahui hasilnya maka hasil rekaman Speech to Text dapat dilihat disini serta hasil rekaman Text to Speech dapat dilihat disini.




Selasa, 03 September 2019


Hasil Review di Portal Rumah Belajar.ID Kategori Literasi dan Sejarah
Oleh : Abdul Azis Muslim
Staf Pengajar SMPN 1 Wedung

Apa yang didalam portal Rumah Belajar.ID kategori literasi sungguh bagus. Didalamnya berisi berbagai inovasi pembelajaran di pelosok nusantara luar biasa bagus karena didalamnya mengandung berbagai macam inovasi pembelajaran yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Inovasi yang beragam di seluruh pelosok penjuru tanah air memberikan semacam motivasi dan semangat bagi guru dan pendidik di seluruh Indonesia. Sayangnya masih ada kelemahan yang penulis jumpai berupa kurang menariknya icon kategori maupun pelabelan yang tidak representative serta menonjol, sehingga bagi mereka yang baru masuk dan melihat, kurang tertarik untuk menjelajahi kategori dan isinya.

Saran penulis ke depan kalau bisa rumah belajar.id dikembangkan lebih sistematis dan integrative serta menarik tampilannya sehingga menggugah selera orang untuk mau masuk dan membaca lebih dalam apa yang terkandung didalamnya. Rumah belajar id menawarkan pembelajaran masa depan karena semua orang bisa belajar dimananapun dan kapanpun.

Yang paling keren lagi semua orang bisa menjadi guru dan murid. Semua bisa saling berbagi pengalaman dengan leluasa. Semua hal bisa dishare kepada semua orang di seluruh Indonesia bahkan bisa diakses ke seluruh dunia. Inilah ciri abad pembelajaran abad 21 yang menekankan 4 pondasi dasar yaitu 4C yaitu kritis, komunkatif, kolaborasi atau kerjasama serta kreativitas.  Kita bisa belajar dari apa yang kita pelajari dan kemudian kita bisa berbagi dari apa yang kita punyai. Saya yakin banyak pembaca yang searching untuk mempelajari portal rumahbelajar.id. Lihat disini.


Sementara itu, Ketika pembaca masuk ke web rumah belajar kategori sejarah, penulis awalnya kurang tertarik karena kurangnya pemahaman mengenai apa yang ditampilkan. Jika hanya mengandalkan video rasanya kurang puas sebagai pembaca. Paling tidak seharusnya kalau mau menarik pembaca, pengelola web bisa membuat tampilan menarik berupa tulisan ilmiah mengenai sejarah misalnya sejarah masjid-masjid tua di Indonesia. Referensi yang kuat dan sempurna makin membuat feature ini seharusnya bagus dan bisa menarik berbagai kalangan untuk masuk ke web rumah belajar kategori sejarah.

Untuk keunggulan pada kategori ini berupa banyak nya materi video sejarah berbagai peninggalan di Indonesia sehingga masyarakat Indonesia bisa mengenal lebih dekat mengenai situs-situs bersejarah dan layak untuk dibaca maupun diteliti lebih jauh.  Jika video dan tulisan dipadukan serta ditampilkan tanggapan dari responden maka situs ini bisa dibaca banyak orang dari berbagai penjuru tanah air bahkan luar negeri untuk mencari dan mengetahui tentang keragaman budaya dan aneka peninggalan sejarahnya.

Pembaca berkunjung ke situs yang dimaksud karena mereka menganggap web tersebut memberikan kebutuhan bagi pengakses. Salah satu alasan mengapa pengunjung membuka web tidak lain mereka dengan mudah segera paham dengan isi yang ditampilkan dalam situs yang dicari. Maka adanya fitur berupa tulisan pengantar menjadi hal yang penting dan tidak diabaikan begitu saja oleh pengelola web. Tulisan yang dibuat pengelola juga harus sesuai EYD dan menarik. Memang sulit untuk merangkai kata yang membuat betah pengunjung di halaman situs. Karena itu sedini mungkin pengeloa berupaya menampilkan tulisan pengantar yang berbobot dan menyenangkan.

Disamping itu dalam rumah belajar.id, pengelola harus memiliki tujuan jelas. Hal ini dibaca dari isi halaman yang ditampilkan pengelola harus relevan dengan tujuan yang hendak dicapai. Dari hasil review, penulis melihat sebetulnya isi halaman memang bagus namun kurang diimbangi dengan tulisan sebagai pengantar sebelum pembaca masuk dan mengklik video dalam tema sejarah maupun tema-tema lain yang disajikan pengelola.

Update data dari penelusuran ke rumah belajar.id sudah berjalan bagus.. Berbagai kajian dan tema juga sudah tampak dilakukan pengelola. Sebagai web yang difungsikan sebagai rumah belajar bersama konten yang dikelola pengelola web sudah mencerminkan hal tersebut. Berbagai kreasi dan inovasi dari seluruh nusantara ditampilkan dengan menarik. Demikian ulasan yang bisa penulis sampaikan sebagai bahan perbaikan ke depan. Tetap jaya rumahbelajar.id. semangat !!

Hasil review Rumah Belajar.Id di atas merupakan tugas dalam rangka memenuhi Vicon Batch 5 102 Demak dengan menggunakan aplikasi google translate. Untuk lebih mantap mengetahui hasilnya maka hasil rekaman Speech to Text dapat dilihat disini serta hasil rekaman Text to Speech dapat dilihat disini.




Sabtu, 31 Agustus 2019


Hasil Review di Portal Rumah Belajar.ID
Oleh : Abdul Azis Muslim
Apa yang didalam portal Rumah Belajar.ID sungguh bagus sekolah isinya luar biasa bagus karena didalamnya mengandung berbagai macam inovasi pembelajaran yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Inovasi yang beragam di seluruh pelosok penjuru tanah air memberikan semacam motivasi dan semangat bagi guru dan pendidik di seluruh Indonesia. Sayangnya masih ada kelemahan yang penulis jumpai berupa kurang menariknya icon kategori maupun pelabelan yang tidak representative serta menonjol, sehingga bagi mereka yang baru masuk dan melihat, kurang tertarik untuk menjelajahi kategori dan isinya. 

Saran penulis ke depan kalau bisa rumah belajar.id dikembangkan lebih sistematis dan integrative serta menarik tampilannya sehingga menggugah selera orang untuk mau masuk dan membaca lebih dalam apa yang terkandung didalamnya. Rumah belajar id menawarkan pembelajaran masa depan karena semua orang bisa belajar dimananapun dan kapanpun. Yang paling keren lagi semua orang bisa menjadi guru dan murid. Semua bisa saling berbagi pengalaman dengan leluasa. Semua hal bisa dishare kepada semua orang di seluruh Indonesia bahkan bisa diakses ke seluruh dunia. Inilah ciri abad pembelajaran abad 21 yang menekankan 4 pondasi dasar yaitu 4C yaitu kritis, komunkatif, kolaborasi atau kerjasama serta kreativitas.  Kita bisa belajar dari apa yang kita pelajari dan kemudian kita bisa berbagi dari apa yang kita punyai. Saya yakin banyak pembaca yang searching untuk mempelajari portal rumahbelajar.id. Lihat disini

Ketika pembaca masuk ke web rumah belajar.id penuis awalnya kurang tertarik karena kurangnya pemahaman mengenai apa yang ditampilkan. Jika hanya mengandalkan video rasanya kurang puas sebagai pembaca. Paling tidak seharusnya kalau mau menarik pembaca, pengelola web bisa membuat tampilan menarik berupa tulisan ilmiah mengenai berbagai tayangan video misalnya sejarah masjid-masjid tua di Indonesia. Referensi yang kuat dan sempurna makin membuat feature ini seharusnya bagus dan bisa menarik berbagai kalangan untuk masuk ke web rumah belajar. 

Untuk keunggulan pada kategori ini berupa banyak nya materi berbagai hal sehingga masyarakat Indonesia bisa mengenal lebih dekat mengenai berbagai hal yang sebetulnya sudah menarik tapi karena tidak adanya pengantar berupa narasi tulisan sehingga pembaca akhirnya enggan membuka video di dalamnya.  Jika video dan tulisan dipadukan serta ditampilkan tanggapan dari responden maka situs ini bisa dibaca banyak orang dari berbagai penjuru tanah air bahkan luar negeri untuk mencari dan mengetahui tentang berbagai hal yang ditawarkan oleh pengelola web rumahbelajar.id.

Revolusi Industri 4.0 menuntut para guru untuk bisa lebih kreatif, inovatif, komunikatif dan bisa berkolaborasi dengan teknologi informasi dan komunikasi. Hal tersebut tidak bisa dihindari dan harus dimiliki sebagai kompetensi jika tidak ingin peran guru digantikan oleh teknologi dan hilang ditelan jaman.

Selaras dengan kondisi di atas. Siswa generasi milenial saat ini begitu mudah beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini tentunya memerlukan strategi model pembelajaran yang terintegrasi dengan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) agar bisa menghadirkan pembelajaran yang kritis, kreatif, inovatif dan kolaboratif dengan TIK. Kualitas Guru minimal harus seimbang dengan perkembangan siswa dibidang TIK agar menghasilkan pembelajaran yang interaktif antara siswa dan guru.Siswa dengan mudah dapat mengakses materi pembelajaran secara langsung melalui berbagai device, baik komputer, tablet maupun smartphone. Dengan banyaknya pilihan materi di dalam fitur “Sumber Belajar” dan “Karya Guru” pembelajaran di dalam kelas tidak lagi membosankan.

Pembelajaran yang kreatif, inovatif, komunikatif dan kolaboratif inilah yang diminati siswa generasi milenial. Dimana siswa bisa belajar dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja.

Hasil review Rumah Belajar.Id di atas merupakan tugas dalam rangka memenuhi Vicon Batch 5 102 Demak dengan menggunakan aplikasi google translate. Untuk lebih mantap mengetahui hasilnya maka hasil rekaman Speech to Text dapat dilihat disini




Jumat, 25 Januari 2019

Bahaya Rokok


Bahaya Rokok di Kalangan Pelajar !
 
 Abdul Azis Muslim

Selain masalah Narkoba yang mengintai bangsa Indonesia. Persoalan lain yang tidak kalah mengerikan adalah makin massifnya kebiasaan merokok di kalangan pelajar. Padahal bahaya rokok sudah jelas. Disisi lain, pelajar adalah tumpuan bangsa di masa yang akan datang. Lalu bagaimana sikap kita mengatasinya?
Menurut data dari  Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa ada  peningkatan prevalensi perokok dari 27% pada tahun 1995, meningkat menjadi 36,3% pada tahun 2013. Artinya, jika 20 tahun yang lalu dari setiap 3 orang Indonesia 1 orang di antaranya adalah perokok, maka  dewasa ini dari setiap 3 orang Indonesia 2 orang di antaranya adalah perokok.

Keadaan ini semakin mengkhawatirkan, karena  prevalensi perokok perempuan turut meningkat dari 4,2% pada tahun 1995 menjadi 6,7% pada tahun 2013. Dengan demikian, pada 20 tahun yang lalu dari setiap 100 orang perempuan Indonesia 4 orang di antaranya adalah perokok, maka dewasa ini dari setiap 100 orang perempuan Indonesia 7 orang di antaranya adalah perokok.

Lebih memprihatinkan lagi  adalah kebiasaan buruk merokok juga meningkat pada generasi muda. Data Kemenkes menunjukkan bahwa prevalensi remaja usia 16-19 tahun yang merokok meningkat 3 kali lipat dari 7,1% di tahun 1995 menjadi 20,5% pada tahun 2014. Dan yang lebih mengejutkan, lebih mengejutkan adalah usia mulai merokok semakin muda (dini).  Perokok pemula usia 10-14 tahun meningkat lebih dari 100% dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, yaitu dari  8,9% di tahun 1995 menjadi 18% di tahun 2013.
Mengutip data hasil  penelitian di RS Persahabatan (2013) memperlihatkan bahwa tingkat kecanduan atau adiksi pada anak SMA yang merokok cukup tinggi, yaitu 16,8%. Artinya 1orang dari setiap 5 orang remaja yang merokok,  telah mengalami kencaduan.  Penelitian ini  juga memperlihatkan bahwa rata-rata anak yang dilahirkan oleh ibu hamil yang merokok memiliki berat badan yang lebih ringan (<2500 gram) dan lebih pendek (<45 cm) dibandingkan dengan ibu yang tidak merokok (>3000 gram) dan lebih panjang (>50 cm).

Data-data tersebut menunjukan fakta bahwa merokok jelas berakibat pada buruk pada  kesehatan masyarakat Indonesia. Merokok merupakan faktor yang berakibat  sangat besar terhadap munculnya berbagai penyakit. Seorang perokok mempunyai risiko 2 sampai 4 kali lipat untuk terserang penyakit jantung koroner dan memiliki risiko lebih tinggi untuk terserang penyakit kanker paru dan penyakit tidak menular (PTM) lainnya.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, jumlah orang meninggal akibat rokok terus meningkat dari tahun ketahunnya. Tercatat pada tahun 2012 sebanyak 117.575 orang sedangkan catatan hingga oktober 2013 sebanyak 94.960 orang.
Dirincikannya, terkena penyakit hipertensi sebanyak 108.515 orang (2012) dan hingga oktober 2013 sebanyak 88.833 orang. Akibat jantung sebanyak 3.568 orang (2012). Dan 2.804 (2013). Terkena stroke sebanyak 2.665 orang (2012) dan 1.711 orang (2013). Terkena penyakit paru-paru abstruksif kronis (PPOK) sebanyak 2.832 ditahun 2012 dan sebanyak 1.612 orang per 2013.
Sedangkan hasil riset terbaru dari Muhammad Ricky Cahyana selaku Sekjen Komunitas Anti Rokok Indonesia (KARI) diketahui bahwa jumlah remaja yang merokok setiap tahunnya semakin meningkat. Saat ini terdapat 1,1 miliar penghisap rokok antara usia 9 hingga 12 tahun dan 45 persennya adalah pelajar.
Jika melihat data di atas jelas bahwa peredaran dan penjualan rokok di kalangan pelajar sudah dalam taraf darurat. Tanpa upaya yang serius maka sangat mustahil untuk memberantas kebiasan merokok di kalangan pelajar sebagaimana kesulitan Indonesia dalam memberantas Narkoba.
Salah satu kelemahan dalam mengurangi kebiasaan merokok dikalangan siswa adalah kemudahan dalam mendapatkan rokok di lingkungan sekitar mereka. Upaya untuk memutusnya yang harus dilakukan segera adalah memutus rantai penjualan bagi pelajar. Harus ada tindakan bersama dan nyata dari pihak terkait. Salah satunya dari masyarakat yang harus jeli dan berani tegas terhadap penjual yang menjual ke kalangan pelajar atau tegas terhada pembeli yang statusnya masih pelajar. Kalau cara ini tidak bisa dilakukan tidak ada jalan lain kecuali dengan menegakkan aturan yang berlaku.
Sebetulnya dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan tepatnya Pasal 49 Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 menyebutkan, dalam rangka penyelenggaraan pengamanan bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi kesehatan, Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok. Kawasan itu antara lain dijelaskan pada pasal 50 yaitu fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan.
Hanya saja meski aturan sudah jelas tapi dalam penindakan seringkali kurang tegas. Mungkin karena jumlah personel penegak hukum yang minim sehingga terkendala oleh waktu dan kondisi sehingga tidak maksimal dalam melaksanakan tindakan tegas dan terukur bagi para mereka yang melanggar aturan.
Menurut penulis harus ada ketegasan dalam menerapkan aturan yang berlaku khususnya kepada mereka yang menjual rokok kepada para pelajar. Tanpa adanya kesungguhan menindak sebagaimana diamanatkan dalam aturan maka seperti macan ompong, hanya galak di kertas saja tidak member efek jera.
Tindakan tegas aparat bisa dilakukan dengan melakukan tindakan tegas terhadap mereka yang ditemukan melanggar aturan. Hal ini diperlukan untuk memberkan efek kejut bagi penjual rokok yang secara terang-terangan berani menjual rokok yang belum memenuhi syarat. Shock terapi ini perlu agar memberikan ketakutan bagi penjual rokok yang masih nekat menjual rokok kepada pelajar. Penulis yakin dengan ketegasan aparat menindak mereka yang menjual ke pelajar maka bisa memutus rantai kecanduan rokok. Muaranya adalah memutus rantai perokok sehingga target untuk mencetak generasi emas 2045 bisa tercapai.

Satu Hari Satu Artikel Mudah Kok!

Oleh:  Abdul Azis Muslim* Bagi orang yang tidak biasa menulis rasanya membayangkan judul di atas mungkin menyeramkan. Bagaimana bisa, m...