Minggu, 18 Agustus 2024

Satu Hari Satu Artikel Mudah Kok!


Oleh:  Abdul Azis Muslim*
Bagi orang yang tidak biasa menulis rasanya membayangkan judul di atas mungkin menyeramkan. Bagaimana bisa, masak sehari bisa satu artikel. Gak masuk akal. Tapi bagi mereka yang sudah menjadi kebiasaan tidak ada yang mustahil. Penulis yang terbiasa menghasilkan karya setiap waktu maka semuanya tidak ada yang sulit.

Pengalaman menulis setiap hari juga dimungkinkan karena kedisiplinan diri yang kuat. Karena itu tantangan bagi penulis adalah bagaimana menguatkan diri untuk istiomah melaksanakan kebiasaan dalam hal ini menulis sehari satu artikel.

salah satu penulis Dadang Kadarusman memberikan tips agar menulis dengan maksimal. Menurutnya menulis itu buat diri kita sendiri. Bukan buat orang lain. Jadi, menurutnya karena untuk diri kita maka saat menulis maka harus yang terbaik. Sehingga mendapat yang terbaik dari yang kita berikan. Sedangkan para pembaca, adalah pihak yang ikut menikmati manfaatnya.

“Dengan begitu, maka lewat tulisan kita; kita menjadi pribadi yang lebih baik terlebih dahulu. Sambil mengajak orang lain untuk menemani perjalanan menuju perbaikan diri itu. So teruslah menulis. Karena dengan menulis, engkau melayani diri sendiri dan memberi manfaat kepada orang lain,” jelasnya saat menyampaikan materi dalam pelatihan menulis online yang dilaksanakan PB PGRI dan Omjay.

Persoalan menerbitkan tulisan di penerbit menjadi hal yang otomatis mengikuti jika tulisan yang kita buat sudah baik. Penerbit akan mendatangi Anda jika skill menulis Anda sudah sesuai dengan yang mereka cari. Untuk bisa menulis baik, Dadang memberikan tips yaitu menganggap kegiatan menulis itu mudah. Jangan ada anggapan bahwa  menulis dan menerbitkan buku itu susah. “Menulis  dan menerbitkan buku itu gampang banget,” jelasnya.

Menulis setiap hari menurutnya membantu menjaga keselerasan antara otot-otot tubuh dan jiwa. “Jadi, nanti kalau kita sudah terbiasa menulis. Melihat apapun, selalu ingin menerjemahkan apa yang kita lihat itu kedalam bentuk tulisan. Begitu pula ketika kita merasakan sesuatu dan itu terjadi secara refleks saja,” ungkapnya.

Orang yang tidak terbiasa menulis, bisa saja memendam perasaan itu. atau butuh seseorang yang mau mendengarnya. Padahal, belum tentu ada yang mau dengan kan? Tapi jika dia terbiasa menulis, maka dia selalu punya teman untuk mencurahkan perasaannya. Kalau sekarang, tinggal ambil smart phone maka kita bisa mencurahkannya disana. Intinya menulis itu sebagai sarana untuk menyalurkan segala hal yang pikir dan dipendam kemudian dibuat tulisan.

Menurut Deka panggilan akrab-Dadang menulis setiap hari itu merupakan healing remedy. Jadi, jika terbiasa menulis, kita bisa menjadi pribadi yang lebih sehat . Kesimpulannya, kenapa perlu menulis setiap hari adalah; Karena seorang penerbit buku sejati, bukanlah orang yang meminta bantuan orang lain untuk menuliskan naskah bukunya.

Bagimana kemampuan itu diasah? Dengan cara berkomitmen untuk tidak melewatkan 1 hari pun dalam hidup kita tanpa menulis. Jadi, bapak ibu sekalian. Jika Anda sungguh-sungguh ingin menjadi penulis handal; mulai sekarang, berkomitmenlah untuk menulis setiap hari. “ Kalau saya pribadi, 1 hari 1 artikel,” tegasnya.

Kan jaman dulu kalau kita mau mengirim artikel ke koran, itu ada ketentuan jumlah kata. Nah kalau ukurannya jumlah artikel, berarti tidak ditentukan jumlah katanya kan ya. Hal itu membuat penulis pemula kesulitan.

Karena bukan hal yang mudah untuk menuangkan gagasan secara indah dengan jumlah kata yang ditentukan. Maka baginyaukurannya adalah "1 Artikel" Artikel itu apa? Sebuah paparan yang memuat buah pikiran penulis sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Begitu ukurannya.

Jadi, yang penting dalam 1 hari itu ada karya tulis ibu bapak yang "KALAU" dibaca orang lain, mereka akan memahaminya Belum tentu ada orang yang membaca artikel itu. Oya, kenapa beliau menggunakankata kalau? Duh, sedih banget ya. Dia menjelaskan bahwa banyak penulis sudah cape-cape nulis tapi kok tidak ada yang baca. Nah, ini penting bapak ibu. “Ditahap belajar ini, sebaiknya kita tidak terlalu baper soal ada yang membaca apa tidak. kenapa? Karena kalau orang lain baca pun belum tentu feedbacknya positif kan ya. Kan tidak sedikit orang yang berhenti menulis karena pembacanya memberi feedback negative,” ungkapnya.

Menurutnya bagi penulis pemulayang penting menulis saja dulu.. Kalau tulisannya sudah memenuhi standar minimal untuk dibaca orang maka pasti bakal dibaca. Setelah membahas tentang WHY yang berhubungan proses membiasakan diri dalam menulis itu Sekarang kita bahas WHATnya. WHAT makes you write something?. Apa sih yang menjadi mendorong Anda untuk menulis?

Ada orang yang menulis agar mendapatkan uang? Ada. Dulu, Bapak Dadang pernah berada di level itu. Karena itu menurutnya niat menjadi penulis harus ditata dulu. Caranya dengan menanyakan kepada diri sendiri dulu apa yang mendorong kita menulis. dengan kata lain, apa sih tujuan kita menulis?. Misalnya menulis untuk mendapatkan uang, karena saya butuh untuk bisa sekolah.

Bapak ibu boleh nggak menjadikan uang sebagai pendorong utama dalam menulis? menurut Deka hal tersebut boleh saja. tidak masalah. Tapi nanti seiring berjalannya waktu nanti penulis akan menemukan dorongan yang paling cocok buatnya.

Kedua, menulis dengan dorongan INGIN BERBAGI PENGETAHUAN. Nah, yang ini menurut Deka paling sesuai dengan jiwa pendidik seperti kita. Artikel itu apa? Sebuah paparan yang memuat buah pikiran penulis sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Begitu ukurannya.

"Jadi, yang penting dalam 1 hari itu ada karya tulis ibu bapak yang "KALAU" dibaca orang lain, mereka akan memahaminya. Karena, belum tentu ada orang yang membaca artikel itu. Oya, kenapa saya pakai kata KALAU? Duh, sedih banget ya. sudah cape-cape nulis tapi kok nggak ada yang baca. Nah, ini penting bapak ibu.. Ditahap belajar ini, sebaiknya kita tidak terlalu baper soal ada yang membaca apa tidak tulisan kita. kenapa? Karena kalau orang lain baca pun belum tentu feedback-nya positif kan ya. Kan tidak sedikit orang yang berhenti menulis karena pembacanya memberi feedback negatif.." papar Dadang.

Bapak Dadang misalnya mempunyai pemikiran bahwamenulis lebih karena ingin agar Allah mengajari saya sesuatu. lalu yang Allah ajarkan itu saya bagikan kepada orang lain.. Dengan itu, maka dia selalu tanya; "Ya Allah, hari ini saya bisa belajar apa? Makanya sekarang saya justru lebih tertarik untuk menulis artikel setiap hari kemudian diberikan secara free daripada memikirkan menerbitkan buku.," jelasnya.

Demikian berbagai metode dan kita yang diberikan oleh Bapak Dadang Kadarusman. Semoga kita mengikuti jejaknya menjadi penulis yang istiqomah.aamiin.


*Mengabdi di salah satu SMP di Kabupaten Demak.

Sabtu, 14 Oktober 2023

 

Teguhkan dan Kembangkan BTQ Sebagai Mulok Khas Demak!

Oleh : Abdul Azis Muslim,M.Pd.*

 

Salah satu Pelajaran yang masuk kategori muatan lokal (mulok) dengan kekhasan di Demak adalah Baca Tulis Qur’an (BTQ). Mulok ini sudah sepantasnya diperjuangkan dan dipertahankan serta terus dikembangkan. Apalagi dengan tantangan zaman yang semakin kompleks dibutuhkan mapel yang bisa meneguhkan dan memberi pencerahan hidup bagi manusia dalam mengarungi kerasnya kehidupan di era modern.

Perlu dipahami, sejak tahun 2011 melalui Peraturan Bupati (Perbup) nomor 423.5/290/2011 yang ditandatangi Bupati Demak saat itu, Bapak Tafta Zani, telah mengakomodir mapel BTQ. Dengan berlakunya perbup ini maka tentu menjadi penanda bahwa Pelajaran BTQ wajib ada dan harus diajarkan pada sekolah-sekolah di wilayah Demak.

Dalam perbup tersebut dijelaskan bahwa penambahan jam Pelajaran BTQ yang disebut sebagai muatan lokal diterapkan pada setiap jenjang satuan pendidikan dengan durasi waktu satu jam Pelajaran. Jika membaca ini maka bisa disebut setiap sekolah sifatnya ‘fardu’ mengalokasikan waktu kegiatan KBM dengan penambahan BTQ tanpa terkecuali.

Namun di lapangan ternyata masih ditemukan sekolah yang belum sepenuhnya mengajarkan  BTQ secara mandiri, sebagaimana diperintahkan di aturan tersebut. Salah satu permasalahan yang ada dan nyata, yang hingga saat ini belum mampu diselesaikan adalah masih adanya sekolah negeri yang mengajarkan BTQ digabung dengan mapel PAI BP.

Maksudnya bagaimana? Begini penjelasannya. BTQ selaku mulok, posisinya berdiri sendiri karena bersifat lokal dan diatur dengan perbup. Sementara, dalam struktur kurikulum nasional, posisi mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (BP) berdiri sendiri dengan durasi waktu setiap minggu diajarkan selama tiga jam. Bahkan perjuangan untuk mendapatkan tiga jam tidak mudah. Untuk mendapatkannya membutuhkan perjuangan yang berdarah-darah.  

Maka jika masih ada sekolah yang mengajarkan mapel PAI BP dan BTQ dijadikan satu (include) maka dipastikan ini melanggar aturan yang ada. Modusnya adalah sekolah mengajarkan PAI BP yang seharusnya tiga jam dikurangi menjadi dua jam. Dua jam untuk materi PAI BP dan satu jam diisi materi BTQ.

Kondisi ini tentu saja memunculkan ketidakmaksimalan dalam KBM. Satu sisi PAI BP juga membutuhkan waktu yang cukup karena harus menyelesaikan aneka materi yang banyak. Sementara alokasi waktu yang tersedia hanya tiga jam pelajaran. Jika dikonkritkan di SMP waktu satu jam Pelajaran adalah 40 menit. Jika dikalikan tiga maka dalam satu minggu hanya PAI BP idealnya diajarkan selama 120 menit. Jika 120 kemudian dikurangi 40 menit untuk dimanfaatkan materi BTQ, maka dipastikan ada materi-materi PAI BP yang hilang atau tidak tersampaikan ke peserta didik karena tergerus materi BTQ.

Permasalahan lain yang tidak kalah pelik adalah jumlah jam yang diakui oleh Kemenag sebagai pengelola yang berhubungan dengan sertifikasi guru PAI BP maksimal hanya 2 jam saja, meskipun dalam kenyatannya mengajar rombel lebih dari dua kelas. Kondisi ini tentu saja menjadi beban tersendiri bagi guru PAI BP yang ingin mengajar BTQ. Akibatnya di lapangan ditemukan pengampu mapel BTQ tidak melulu berasal dari latar belakang guru PAI BP. Terkadang guru mapel lain juga mengampu BTQ meskipun tentu saja harus memiliki kemampuan baca tulis al-Qur’an.

Dengan melihat permasalahan di lapangan seperti itu, maka sudah seharusnya MGMP BTQ  SMP dan MGMP PAI di Kabupaten Demak bersama-sama mencarikan solusi atas masalah ini. Ke depan bagaimana jam PAI BP yang ada bisa dimaksimalkan untuk materi PAI BP saja tanpa diganggu dengan penggabungan dengan BTQ. Sementara BTQ yang sudah diatur tersendiri di Perbup Demak juga bisa berdiri sendiri bahkan kalau perlu jamnya ditambah satu jam karena dalam kenyataannya di lapangan berdasarkan keluhan guru BTQ, waktu satu jam dirasakan tidak memadai untuk menyelesaikan materi-materi BTQ.

Eksistensi BTQ di sekolah wajib dipertahankan bahkan kalau perlu ditambah dengan penambahan jam Pelajaran bahkan dilakukan upaya sistematis untuk memaksimalkan BTQ agar memberikan kekhasan kota Demak sebagai kota religius bisa dipertahakan dan dikembangkan. Semoga saja. Insya Allah. Aaamiin.

 

*Penulis saat ini mengabdi di SMP Negeri 1 Wedung

 

Kamis, 23 April 2020

Kuasai Udara dan Darat, Strategi Jitu Pasarkan Buku


Oleh : Abdul Azis Muslim


Setiap produk tidak terlepas dari usaha penjualan. Buku salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat yang maju. Mau tidak mau guna menunjang kebutuhan akan minat baca publik dibutuhkan strategi bisnis yang luar biasa. Apalagi di tengah persaingan yang makin kompleks. Termasuk dalam bisnis industri penerbitan buku , agar tetap hidup dan dapat mencapai hasil penjualan buku yang maksimal maka wajib hukumnya mengetahui  strategi pemasaran.

Agust. Subardana salah satu tim marketing Percetakan Andi Offset menuturkan  bahwa strategi pemasaran penjualan buku sangat dipengaruhi oleh banyak aspek dan unik . Kenapa demikian , hal ini dapat dilihat dari jenis – jenis buku yang di terbitkan. Jenis – jenis buku yang di terbitkan tersebut dikelompokan menjadi katagori buku. Salah satu contoh Penerbit ANDI Offset menerbitkan buku cukup banyak katagori produk yaitu ada 32 katagori produk buku ( Katagori buku Anak, buku Bisnis, Buku Pertanian, Buku Fiksi - Novel, Buku Pengembangan Diri, Buku Teks , dll ).

“Perkembangan industri penerbitan buku juga dipicu oleh alasan keuntungan (profit margin) yang relatif besar dibandingkan industri lainnya khususnya barang konsumsi. Saat ini terdapat 1 328 penerbit yang terdaftar sebagai anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dengan jumlah penerbit aktif sebanyak 711 penerbit, dan sisanya sudah tidak aktive lagi,” jelas Agus.

Sehingga strategi pemasaran pada umumnya di pengaruhi oleh faktor yang meliputi pertama,  Faktor Mikro , yaitu perantara, pemasok, pesaing dan masyarakat. Kedua, Faktor Makro yaitu demografi-ekonimi, politik-hukum, teknologi-fisik dan sosial-budaya.

Penerbit ANDI Offset sudah termasuk Industri Penerbitan buku, dengan usianya sudah mencapai 40 tahun dan telah menerbitkan buku lebih dari 10.000 judul buku yang telah di kelompokkan menjadi 32 katagori. Maka pendekatannya memakai dua factor dalam pemasaran buku.

Agus menjelaskan bahwa pemasaran buku yang efektif terbagi menjadi dua cara Strategi Pemasaran Buku serangan Udara dan strategi pemasaran buku serangan Darat, dengan berlandaskan pada faktor mikro dan faktor makro tersebut di atas.

Adapun strategi penjualan buku lewat udara dapat dilakukan dengan sejumlah cara antara lain pemasaran buku lewat online dan pemasaran buku lewat komunitas.  Saat ini yang sedang ngetren dan gencar di dunia maya yaitu strategi pemasaran lewat website. Hal ini ditempuh jika sudah mempunyai produk buku yang jenis katagorinya banyak.

“ Katakanlah website merupakan markas besar untuk sebuah bisnis penjualan buku. Dengan mempunyai website ini kita dapat merencanakan promosi dalam melancarkan penjualan buku. Dan website tersebut akan banyak kita isi produk, harga, promosi, layanan, alamat, testimoni, dan lain sebagainya,” ungkap Agus.

Diperlukan langkah proaktif dalam menjual buku lewat dunia maya. Hal itu dilakukan agar mampu menyebarkan informasi produk secara masif kepada target pasar potensial, mendapatkan konsumen baru dan mempertahankan konsumen yang sudah sehingga kesetiaan konsumen terjaga, menjaga kesetabilan penjualan saat kondisi pasar lagi lesu, menaikan penjualan dan profit, membandingkan dan keunggulan produk dibandingkan dengan pesaing, membentuk citra produk dibenak mata konsumen sesuai dengan yang diinginkan, mengubah tingkah laku, persepsi dan pendapat konsumen. Media Online yang dapat kita lakukan untuk promosi dan penjualan buku yaitu sudah tidak asing lagi dibenak anda sekalian yaitu lewat telepon, w.a, sms, email, dll.

Langkah lain yang bisa dilakukan untuk memasarkan buku dengan efektif melalui pemasaran buku lewat komunitas. Menurut Agus setiap orang mempunyai komunitas masing – masing sesuai dengan kapasitas untuk membentuk komunitas dan relasi . Maka gunakanlah jaringan komunitas tersebut untuk sarana promosi dan penjualan buku. Penjualan lewat komunitas  akan lebih efektive dan efisien sehingga tingkat keberhasilan nya lebih tinggi penjualan buku yang kita tawarkan. Kuncinya kita harus proaktive komunikasi dan interaksi dengan komunitas serta dapat menjaga integritas pribadi kita,” ungkapnya.

Sementara untuk strategi pemasaran buku serangan darat maka diperlukan pemetaan wilayah dengan membuka cabang tiap kota besar yang potensi pasarnya sangat baik. Penerbit Andi sendiri mempunyai 43 cabang di kota dari Aceh hingga Papua, dengan menempatkan tenaga pemasaran di tiap kantor cabang tersebut.

Pemasaran buku lewat darat melalui toko buku, direct selling dan lewat penjualan melalui even. Penerbit Buku yang mampu memproduksi sendiri dan mempunyai mesin percetakan sendiri , sebagian besar sebagai pemasok toko buku di Indonesia. Untuk bisa masuk dan sebagai pemasok rutin di toko buku maka  diperlukan pemetaan jenis toko buku. Toko buku ini dipetakan menjadi tiga jenis yaitu Toko Buku Modern, Toko Buku Semi Modern, dan Toko Buku Tradisional.  

Mengapa membutuhkan pemetaan toko buku. Hal ini dikarenakan tiap jenis toko buku tersebut mempunyai sistem administrasi dan tempat yang berbeda.  Contoh toko buku modern yaitu Gramedia Books Store, Gunung Agung Books Store dan Toga Mas Books Store. Toko Modern ini mempunyai sistem transaksi mengikuti perkembangan teknologi yang dapat dikendalikan dengan sistem sentralisasi dan sebagainya.

Adapun toko buku semi modern biasanya masih dikendalikan dan mengunakan sistem administasi penjualan per toko . Sedangkan toko tradisional biasanya sistem transaksinya masih manual .Untuk itu saluran toko buku tersebut di atas masih dijadikan jalur distribusi oleh para Penerbit buku dengan sistem titip  jual / konsinyasi, kecuali toko buku tradisional diberlakukan kredit dan jual putus.

Strategi promosi di toko buku modern ada berbagai macam cara yang perlu lakukan , antara lain menguasai display buku , supaya tampilan buku dapat terlihat dan menonjol, mengadakan promosi di internal toko dengan memasang produk di Neon Box, X Banner, mengadakan Bedah Buku , talkshow dan potongan harga pada buku tertentu atau periode tertentu, mengadakan event tematik sesuai moment bulan berjalan (program Ramadhan,  Program TAB, Program TAM , dll ).

Sementara, pemasaran buku melalui direkselling dipetakan berdasarkan jenis katagori buku yang diterbitkan. Jenis Katagori buku penjualan lewat directselling dibagi menjadi beberapa target pasar yaitu Buku Pendidikan (Buku mata pelajaran Utama dan buku pendamping untuk jenjang TK, SD, SMP, SMA, SMK), Buku Teks Perguruan Tinggi untuk semua mata kualiah, Buku Referensi untuk jenjang TK, SD, SMP, SMA-SMK , Perguruan Tinggi dan umum.

Dengan pemetaan jenis katagori tersebut diatas maka Industri Penerbitan buku melakukan terobosan pemasaran dengan menempatkan tenaga penjual (Sales). Tugas tenaga penjual / sales tersebut di tanggungjawab target sesuai maping areanya masing – masing yang bertugas. Mereka mempunyai tugas mengunjungi langsung ke tiap sekolah, mengunjungi langsung ke setiap kampus, mengunjungi langsung ke setiap Perpustakaan sekolah, Perpus Kampus, Perpustaan Daerah dll.

“Dengan kunjungan langsung tersebut diharapkan dapat berinteraksi dengan membangun hubungan yang baik dengan pihak Internal Sekolah, Kampus, Perpustakaan dll. Sehingga dampaknya hasil penjualan buku dapat meningkat,” jelas Agus.

Terakhir dengan melakukan pemasaran melalui kegiatan event antara lain seperti event pameran buku, seminar, workshop, tryout, dan sebagainya. Jika semua usaha pemasaran dilakukan diharapkan hasilnya bisa maksimal.

Rabu, 22 April 2020

Pahami Pasar Konsumen, Trik Agar Buku Masuk Percetakan


Oleh : Abdul Azis Muslim


Ingin bisa masuk dapur percetakan dan diterbitkan bukunya oleh penerbit?Anda wajib membaca tulisan ini. Kunci pertama bagi penulis adalah pemilihan judul yang baik, pasar sasaran yang akan dituju, kemudian lakukan sedikit riset pesaing, sehingga dapat dengan gamblang ditawarkan ke penerbit. Tiga hal ini yang menurut Edi S. Mulyanta S.Si, M.T. menjadi pegangan bagi setiap penulis yang bercita-cita memasukkan berkas tulisannya ke penerbit.

Apalagi tema yang ditulis tersebut ternyata tema yang baru, maka perlu tambahan data riset kecil yang tidak gampang untuk memengaruhi penerbit agar mau menerbitkan buku seorang penulis. Menurut Edi penerbit lebih cenderung mencari tema yang secara data pemasaran sudah ada. Hal ini berkaitan dengan meminimalisir resiko ketika buku dijual ke pasaran.

Publishing Consultant Andi Publisher ini membagi tips bagi penulis pemula agar mengirimkan naskah tulisan ke beberapa penerbit.. Selanjutnya, penerbit akan menyeleksi tulisan, dengan beberapa pertimbangan. Salah satu pertimbangan dominan tentang pemasaran sebagai bahan pertimbangan utamanya. “Berikan sedikit penjelasan pasar sasaran, dengan data-data angka akan lebih menarik,” ungkap pria kelahiran Jogyakarta ini saat memberikan kuliah Online Menulis yang digawangi Omjay kerjasama dengan PB PGRI.

Edi memaparkan bahwa setiap penerbit telah dipercayakan ISBN dari perpustakaan nasional, sebagai penanda setiap terbitannya, dan dinaungi di bawah IKAPI sebagai lembaga yang ditunjuk pemerintah untuk mewadahi setiap penerbit di luar penerbit kampus. Penerbit di bawah IKAPI secara alamiah memilih jalur masing-masing sesuai passionnya dalam menerbitkan buku.

Agar bisa diterima penerbit, maka sudah seharusnya seorang penulis, sebaiknya memahami ciri khas terbitan setiap penerbit. Hal ini bertujuan agar tulisannya sesuai dengan misi penerbit tersebut. “Walaupun ada penerbit yang dapat menerbitkan segala tema di setiap terbitannya,” jelasnya.

Secara gamblang Edi menyarankan agar penulis, dapat mengirimkan usulan dan proposal terlebih dahulu untuk menjajagi apakah jalur tulisannya sudah sesuai dengan visi dan misi penerbitan belum. Hal ini untuk menghemat waktu dan biaya dalam memersiapkan tulisannya.

Setiap penerbit, mempunyai SOP dalam memilah, memilih tulisan untuk dijadikan komoditas industri, dengan tujuan utama tentunya adalah terbitannya dapat terserap di pasar dengan cepat.

“Penerbit mempunyai peta pasar yang dia rekam dari outlet-outlet nya, sehingga instink penerbitan yang telah lama bergelut di bidangnya akan semakin terasah. Dari melihat judul, outline, dan siapa penulis, terkadang penerbit dapat memproyeksikan pasar buku yang menjadi sasarannya,” jelasnya.

Pria kelahiran 24 Mei 1969 memberi contoh bahwa pada saat ini buku yang sangat dicari adalah buku tentang Covid-19. Maka seorang penulis bisa mencari secepatnya apa, bagaimana, virus tersebut. “Apakah buku yang kita tulis betul-betul mempunyai manfaat pada pembaca,” jelasnya.

Edi menambahkan, selain melihat situasi, penulis juga harus mengerti peta persaingan. Pesaing buku apakah sudah ada apa belum. Penulis perintis pertama biasanya dapat menikmati pasar awal yang cukup menarik. Biasanya tulisan pertama memunyai kualitas yang belum baik, akan tetapi mengejar momen yang cukup  bagus. “Penulis follower biasanya mempunyai penyajian materi yang lebih baik  akan tetapi terkadang menikmati pasar sisa dari para penulis perintis,” imbuhnya.

Penulis perintis effort awal lebih banyak dengan risiko tidak laku juga besar. Penerbit akan sangat tergantung dari tawaran awal dalam proposal dalam menentukan penerbitannya.

Proposal buku akan semakin sempurna, jika penulis telah melakukan proses tulisan bukunya minimal 50% dari rencana keseluruhan. Supaya proses penyelesaian tulisannya tidak terlalu lama. Penerbit biasanya memberikan waktu yang beragam untuk menyelesaikan tulisan tersebut.

Edi menceritakan bahwa selama ini banyak penulis yang menebar proposal banyak, akan tetapi finishing tulisannya lambat. Tentu saja kondisi ini akan menghambat proses produksi bukunya. Akibatnya, penerbit akan memilih tulisan yang lebih dahulu selesai. Hal inilah diperlukan manajemen waktu penyelesaian tulisan penulis, supaya dapat segera diproses di penerbitannya.

Proses penerbitan cuku panjang waktunya, dari administrasi penerbitan awal, editing, setting layout, desain cover, dan proses produksi. Tanpa ada antrian proses penerbitan buku memakan waktu antara 2 minggu hingga 1 bulan paling lama.

“Yang membuat lama adalah proses antrian, baik dari sisi penulis maupun beberapa bagian di penerbitan,” ungkap S1 Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 1994.

Untuk itu penulis harus mengerti alur penerbitan produk buku. Pada proses administrasi penerbitan, yang perlu dipersiapkan adalah Kelengkapan naskah, dari Judul-Sub Judul, Nama Pengarang, Kata Pengantar, Prakata, Daftar Isi, Bab, hingga Sinopsis. Penulis harus jeli melengkapi hal demikian, karena biasanya sebelum lengkap, proses selanjutnya tidak akan dijalankan.

Sementara proses editing, akan terbantukan dengan pengetahuan ejaan, pemilihan kata, kalimat, paragraf hingga hirarki bab yang baik dari penulis. Edi memaparkan pengalamannya bahwa kelemahan penulis biasanya tidak clear saat menentukan hirarki bab, paragraf, kalimat, kata, dan pemilihan fontasi.

Editor akan membantu hal tersebut, akan tetapi apabila penulis telah menata dengan baik, maka kerja editor akan lebih fokus ke dalam bagaimana memilih efektifan kalimat, dan struktur bab yang baik.

Setting layout juga mempunyai peranan yang penting, karena menentukan ukuran buku, jumlah halaman, dan keindahan halaman per halaman. Titik krusial ada di sini, karena dengan pengaturan halaman yang baik, makan harga buku akan dapat efektif di tentukan.

“Harga buku yang menarik, akan cukum memengaruhi pembeli dalam memutuskan akan menikmati buku tersebut atau meninggalkannya.,” jelas S2 Magister Teknologi Informasi Fak. Elektro UGM Yogyakarta 2006.

Desain cover, juga memunyai peranan strategis dalam sebuah buku. Apalagi tipikan pembeli buku di Indonesia adalah didasarkan dari keindahan dan seberapa menarik cover buku. Tipikal pembaca buku di indonesia adalah, sight seeing, sehingga cover sangat penting sekali dalam pemasaran buku. Setiap penerbit mempunyai data juga bagai mana cover yang menarik, dan terbukti mendongkrak pemasaran. Saat proofing, penulis sebaiknya memberikan beberapa perbaikan ide untuk lebih memperkuat pasar buku yang ditulisnya.

Kerjasama yang baik dari penulis, dan pengetahuan data dari penerbit akan dapat menentukan keberhasilan tulisan untuk terserap di pasar.

Edi menjelaskan bahwa dari pengalaman di Penerbitan Andi Publising, tidak ada buku best seller yang by design. Maksudnya banyak buku best seller di Indonesia, lahir karena karunia dan keberuntungan semata. Karena itu dia meminta kepada penulis pemula untuk tidak takut menawarkan tulisan anda ke penerbit,. Pada dasarnya penerbit juga trial and error. Dalam menerbitkan buku ternyata bukan hanya factor pengalaman. Intuisi juga terkadang membantu untuk menghindari kerugian.

Edi menjelaskan kondisi penerbit buku saat ini menyedihkan sekali. Saat ini hampir 90 persen outlet penerbitan sekarang tutup. Kampus dan sekolah tutup semua tidak ada aktifitas. “Omzet kami betul-betul turun hingga ke titik nadir. Kami harus berjuang hingga 3 bulan ke depan untuk menanti masa panen di tahun ajaran baru,” jelasnya.

Dalam jangka 3 bulan ke depan merupakan titik hidup mati penerbitan, karena jika tidak dapat melewatinya, banyak sekali penerbit di bawah ikapi akan gulung tikar. Sementara pasar On Line di Indonesia belum tumbuh untuk pasar buku, sehingga kami harus menahan lapar sejenak untuk 3 bulan ke depa. Dia berharap pandemi ini akan usai.

Penulis juga mesti memahami bahwa  pasar penelitian di Indonesia sangat kecil sekali, sehingga terkadang pasar yang di sasar adalah pasar captive market, atau pasar yang sudah memahami betul materi bahasan. Pasar ini disebut niche market atau pasar ceruk.

Buku yang terbukti masih laku di toko buku adalah buku anak, buku dongeng, cerita bergambar, komik. Dia menyarankan buku tersebut harus mempunyai value bagus untuk pendidikan karakter. Buku lainnya yang masih prospektif adalah buku, keagamaan, motivasi, dan buku sekolah.

Bagi yang ingin mengenal Bapak Edi bisa berkomunikasi melalui https://www.facebook.com/edis.mulyanta maupun melalui www.sobatambyar.com.


Selasa, 21 April 2020

Jangan Takut Menulis Meskipun Salah !


Oleh : Abdul Azis Muslim

Bukan perkara mudah dalam menulis apapun tulisannya. Terkadang dihantui tulisannya jelek, takut tulisannya dicela, takut tulisannya basi dan takut yang lain membuat seorang enggan menungkapkan ide dalam bentuk tulisan.

Menurut Catur Nurochman Oktavian Ketua Departemen Litbang PB PGRI menuturkan bahwa ada dua musuh utama seorang penulis yang harus dilawan yaitu rasa takut dan rasa malas.

Menurutnya Setiap penulis yang baik tentu tidak membutuhkan “mood”. Mood harus disingkirkan dari benak Anda jika menghambat kerja otak dalam menulis. Bayangkan Anda seorang yang bekerja menghasilkan tulisan seperti wartawan, kolumnis, dan redaktur majalah.

Isaac Asimov, seorang penulis fiksi ilmiah yang memiliki reputasi bagus, mengakui bahwa cara ia menulis adalah “simpel dan apa adanya”. “Saya garis bawahi. Menulislah dengan simpel dan apa adanya,” ungkap Catur. Agar diterima media, maka menulis hal yang aktual dan sesuai dengan gaya selingkung media yang akan dituju, menjadi kunci sebuah tulisan diterbitkan Seperti dikatakan asimov tadi, seorang penulis yang baik, maka ia dapat menulis dengan cepat.

Lebih jauh Catur menjelaskan bahwa bahwa setiap orang yang mampu mengerjakan sesuatu dengan baik, maka dipastikan ia dapat melakukan lebih cepat dibandingkan orang yang tidak bekerja secara baik. Jadi menulis adalah sebuah kecakapan atau keterampilan. “Bila Anda menguasai secara detail pengerjaan tulis menulis, maka kecakapan itu akan berbanding lurus dengan kecepatan pengerjaan,” tegasnya.

Maka menurut pengurus PB PGRI ini trik menulis ya dengan menulis dengan simpel dan apa adanya mengandung maksud, jadilah dirimu sendiri ketika menulis. Bagaimana caranya menemukan gaya atau menjadi diri sendiri ketika menulis? “Tentu dengan perbanyak menulis dan membaca untuk mempelajari gaya tulisan orang lain atau copy the master” ujarnya.

Dia menambahi agar tidak membebani maka jangan memaksakan diri dengan menulis sesuatu yang berlebihan di luar gaya Anda. Kalau suka traveling, tuliskan kisah perjalanan Anda. Dengan ini tentu lebih mudah menuliskan sesuatu yang disukai. Tuturkan segala yang ada secara sederhana dengan cara Anda.

Salah satu yang membuat seseorang tidak mampu menghasilkan tulisan yang baik adalah karena mencoba memasukkan kata atau kalimat yang membuat pembaca tidak paham pesan apa yang dimaksud dalam tulisan itu. “Tuturkan segala yang ada secara sederhana dengan cara Anda. Oleh karena itu, pesan dalam tulisan harus jelas dapat dipahami oleh pembaca.,” jelasnya.

Jika menulis dengan kalimat yang tidak simpel, maka tujuan pesan dalam tulisan tidak tersampaikan. Bahkan hanya membuat kening pembaca berkerut. Untuk dia lagi-lagi memberikan trik yaitu dengan menulis seperti berbicara. Ketika berbicara kepada teman, tentu tidak ada keinginan Anda menggelembungkan kata atau kalimat dengan bahasa yang berlebihan. “Ketika berbicara kepada orang lain, tentu sedapat mungkin menggunakan bahasa yang dapat mudah dipahami, iya kan?,” jelasnya.

Untuk penulis pemula tidak usah takut dan ragu dalam menulis. Dia mempunyai nasehat luar biasa. “Mengapa Anda masih ragu menghasilkan draf tulisan yang pertama? Biarkan tulisan yang dihasilkan jelek, karena Anda masih punya banyak waktu untuk memperbaiki draf tersebut,” tegasnya.

Catur mengingatkan agar penulis yang  hendak menulis dan mengirimkan ke media harus memahami tata aturannya. Setiap media memiliki gaya selingkung masing-masing sesuai kebijakan redaksinya. “Misalnya, kita perlu mengetahui, berapa jumlah kata dalam artikel yang bisa dimuat di media itu, dan aturan penulisannya,” ungkapnya.

Lagi-lagi Catur memotivasi kepada penulis tidak usah kuatir tulisan kita ditolak dan dianggap jelek. Perbaiki lagi kekurangannya, dan terus kirim lagi. “Tidak perlu takut salah. Salah perbaiki dan kirim lagi,” pesannya.


Senin, 20 April 2020

Jam Terbang Menentukan Prestasi, Kisah Sosok Gupres Sigit Suryono, M.Pd.

Pengalaman adalah guru terbaik. Pepatah yang sudah melegenda ini telah teruji diberbagai bidang. Salah satunya seperti kisah guru berprestasi asal Jogyakarta yaitu Sigit Suryono, M.Pd. Pria kelahiran Sleman ini hingga kini sudah 18 kali menyabet 18 prestasi dan skalanya rata-rata tingkat nasional. Woow keren ya. Bagaimana kisahnya?berikut ini terangkum saat beliau menyampaikan materi pelatihan menulis online yang diasuh Omjay bekerjasama dengan PB PGRI.

Sejak tahun 2006 pria kelahiran 20 Nopember 1976 ini sudah bergelut dalam kompetisi. Dengan waktu yang cukup guru mapel IPA mempunyai karakter petarung kompetisi sehingga mempunyai kemampuan analisa dan perhitungan yang matang dalam setiap even yang diikutinya.

Apa saja yang harus dipersiapkan agar bisa berkiprah dalam kompetisi. Dia mengajukan sejumlah hal yang harus disiapkan dini oleh seorang pendidik diantaranya 1) Persiapkan diri sebaik mungkin, 2) Siapkan karya yang terbaik dengan indicator waktu pengerjaanya jangan instan minimal 1 tahun sehingga betul-betul karya tersebut dijiawai 3) Jika kita lolos ke tingkat nasional maka perlu melihat parameter atau ukuran dalam lomba tersebut, apakah karyanya ataukah presentasinya 4) Siapkan fisik, mental dan fokus terhadap lomba 5) saat presentasi lomba fokus pada materi yang akan kita sampaikan, jangan sampai keluar dan menyimpang dari presentasi yang kita siapkan karena akan banyak memakan waktu.

Lalu untuk lomba guru berprestasi, pria yang mengajar SMP N 1 Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta ini juga menyajikan sejumlah trik yang wajib diikuti agar bisa maksial dalam lomba tersebut. Apa saja?

Pertama, mencermati isi dari pedoman tersebut berkaitan dengan proses penilaian dari tingkat Kabupaten, Tingkat propinsi, dan tingkat Nasional. Kedua, Buatlah portofolio 8 tahun terakhir sesuai dengan ketentuan dari buku pedoman pemilihan guru berprestasi. (kumpulkan semua karya yang sudah kita buat selama 8 tahun terakhir, untuk bukti fisik berupa Surat tugas, piagam, dll, diligalisir oleh atasan langsung) misal undangan, catatan singkat/ laporan singkat setiap kegiatan yang saya ikuti, foto, video dan dokumentasi, piagam dan sertifikat yang lain selama 8 tahun tersebut memudahkan untuk menyusun portofolio.

Ketiga, mempersiapkan naskah inovatif dan sesuaikan cara penulisannya sesuai dengan kaidah penulisan masing-masing karya. Tampilkan karya inovasi terbaik yang kita miliki dan selalu memperhatikan dari buku pedoman pemilihan guru berprestasi tingkat nasional. Karya bisa berupa PTK, best practice, maupun penelitian yang lainnya seperti penelitian eksperimen, penelitian R&D, dll.  

Keempat, Buatlah makalah evaluasi diri mengapa saya layak sebagai guru berprestasi dengan tema dan tata penulisan sesuai dengan ketentuan pedoman guru berprestasi. jika dalam pedoman tidak ada makalah evaluasi diri maka makalah ini tidak perlu dibuat.

Kelima, Persiapkan video pembelajaran untuk satu tatap muka yang mencerminkan proses pembelajaran yang benar sesuai dengan rpp yang dibuat.
Menurutnya kegiatan penilaian Gupres pada dasarnya dimana mulai dari tingkat kabupaten hingga tingkat nasional. Yang kita perlukan adalah penguasaan karya kita dan linearitas antara pertanyaan juri dengan jawaban kita. Minimalisir suara atau ‘noise’ yang mengganggu presentasi kita.

Mungkin di tingkat kabupaten, penilaian juri berbeda-beda. Ada penilaian tentang strata pendidikan kita, ada yang menekankan best pactice, tetapi intinya sama yaitu kita menunjukkan portofolio mendidik kita.

Tidak kalah penting menurut beliau sehabat apapun tidak boleh melupakan unggah-ungguh. Caranya dengan berkoordinasi dengan atasan dan juga bekerjasama dengan teman sesame guru, “Nyuwun sewu disik untuk mendapatkan surat tugas. Berkolaborasilah dengan rekan sejawat. Mustahil kita bisa mengumpulkan dan mengisi portofolio sedemikian banyak tanpa bantuan teman-teman di dunia nyata maupun dunia maya,”  tuturnya.
Berikut alamat email yang bisa dihubungi jika ingin lebih lanjut berkorespondensi dengan beliau. sigit.suryono@gmail.com, ciget_suryo@yahoo.com, http://ciget.info/?p=197

Jumat, 17 April 2020

Motivasi Siswa Maka Sentuhlah Hatinya ! Tips Mengajar Motivator Ala Aris Ahmadi


Oleh : Abdul Azis Muslim

Menjadi guru yang dirindukan tidaklah mudah. Sungguh sulit tapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Salah satu caranya dengan memberikan motivasi kepada peserta didik dengan menyentuh hatinya. Ini salah satu tips yang disampaikan oleh Aris Ahmad Jaya salah satu motivator bidang pendidikan dalam diklat online yang dilaksanakan PGRI yang dipandu Omjay.

CEO di Lembaga ABCo SUGESTI MOTIVATINDO itu menerangkan bahwa agar menjadi guru yang menarik dan menyenangkan, seorang guru harus belajar untuk menarik perhatian siswa dan tampil dengan menyenangkan. Bagaimana caranya? Agar menjadi guru dengan pribadi yang menarik dan menyenangkan adalah mempersiapkan diri Anda dengan latihan menjadi guru yang menarik (segi penampilan terbaik, berperilaku menarik). “Ttunjukkan bahwa diri Anda benar – benar layak untuk mengizinkan Anda hadir dan layak untuk diperhatikan dengan cara – cara yang menyenangkan bagi siswa,” jelas pria asal Pati tersebut. 

Menurut pria yang lahir 23 Februari 1974 mendeskripsikan pengelompokan guru berdasarkan niatnya ada dua yaitu guru betulan dan guru kebetulan.   Guru betulan adalah guru yang memang dari awal ingin menjadi seorang pendidik. Ingin mengajar dan memang ingin menjadi guru. Guru seperti ini adalah sosok guru yang diidamkan. “Guru ini mempunyai energi untuk mengajar dan menularkan imunya kepada anak didiknya,” ucapnya. 

Sementara guru kebetulan yaitu guru dibutuhkan karena kebetulan ada lowongan mengajar, baru lulus dari universitas dan diterima menjadi guru, kebetulan ada yayasan milik orang tua. 

Menurutnya guru kebetulan adalah salah jika dilakukan terus menerus, namun bisa juga benar jika guru tersebut akhirnya menjadi seorang guru yang menyadari tugasnya. Jika seorang guru tidak mau menerima profesinya sebagai pilihan yang mulia, maka baik itu guru betulan maupun guru kebetulan menjadi salah. Karena itu untuk menjadi guru professional harus  sejak awal mempunyai niat dan semangat.

Lebih lanjut Aris menjelaskan jika berdasarkan kinerjanyaada tipe guru yaitu guru nyasar, guru bayar dan guru sadar. Guru Nyasar cirinya saat mengajar tidak mempunyai target dan energi untuk mengajar. Sehingga siswa tidak menyukai cara mengajarnya. Sementara, guru bayar adalah guru yang mengajar berdasarkan energi uang. Mood mengajar sangat tergantung dengan adanya gaji dan tunjangan guru yang diperoleh . Terakhir guru sadar adalah guru yang sangat dicintai oleh siswanya. Pembelajarannya menyenangkan dan kehadiran guru ini sangat dirindukan oleh siswa. Tipe terakhir inilah yang ideal.

Guru sangat berpengaruh dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM). Maka menurut motivator ini ada 4 peran guru yaitu mengajar, mendidik, menginspirasi dan menggerakkan.

Mengajar  menurutnya adalah memindahkan ilmu dari guru kepada siswa. Pola ini adalah pola konvensional yang sudah ketinggalan zaman.  Sedangkan mendidik 
yaitu seorang guru harus menjadi idola, teladan / contoh sesuai dengan istilah guru sendiri, digugu dan ditiru. Mendidik bukan mentransfer ilmu melainkan menanamkan nilai – nilai moral dan karakter, seperti kejujuran, kedisiplinan, bersyukur.

Peran lain seorang guru adalah menginspirasi. Peran ini menuntut seorang guru menjadi sosok yang menginspirasi siswa. Terakhir peran guru adalah mampu menjadi penggerak. Jika guru sudah mampu mendidik dan menginspirasi, maka guru dipastikan bisa menggerakkan siswa – siswanya untuk mengerjakan apa saja yang diminta oleh guru demi ketercapaian kompetensi dalam pembelajaran 

Aris menegaskan bahwa jika setiap guru dapat menjalankan semua perannya dengan baik, maka guru tersebut sudah bisa menyelami dunia anak. Menurutnya materi apapun yang akan disampaikan oleh guru, sangat bergantung pada kesuksesan guru tersebut untuk menarik minat anak kepada dirinya lalu kepada pembelajarannya. 


Berikut ini adalah beberapa Langkah untuk Mengajar Gaya Motivator (MGM) : Pertama, Tips membuka pintu mengizinkan : awali dengan senyum 1,2, 2, 5 (1 dari hati, 2 cm kanan, 2 cm kiri, cukup 5 detik). Kedua, sapa siswa dengan cara yang berbeda, misalnya : Semoga siswa yang menjawab salam saya, mendapat nilai yang terbaik dan naik kelas, maka siswa akan menjawab dengan semangat. Ketiga, berikan apresiasi klasikal secara verbal, misalnya : saya bangga menjadi wali kelas kalian. Keempat, Berikan simulasi sederhana sebelum pembelajaran dimulai, misalnya lakukan tepukan, tebak – tebakan, dan game lainnya. Kelima, tangkap basah kebaikan, tempa besi selagi panas, artinya apresiasi siswa sesegera mungkin. 

Tips kedua, yaitu menemukan titik lebihnya dan motivasi mereka melalui nilai lebihnya. Seorang guru hanya perlu memberikan kesempatan pada siswanya untuk menemukan titik lebihnya. Misalnya ada seorang siswa yang mempunyai kelebihan dalam mata pelajaran matematika, maka guru dapat memberikan motivasi kepada anak tersebut berdasarkan kelebihannya itu. Cara ini memberikan motivasi kuat siswa untuk belajar

Ada tiga cara untuk menemukan kehebatan dari siswa :  pertama, Anda harus mampu memberikan momentum / kesempatan hebat dari masing – masing siswa berdasarkan nilai lebihnya. Kedua, libatkan mereka menjadi bagian dari pemain, bukan sekedar menjadi penonton. Terakhir dengan memberikan label positif.

Aris menambahkan bahwa komunikasi yang cerdas dan efektif juga dapat mendukung kesuksesan pembelajaran. Dalam komunikasi, seorang guru harus menggunakan bahasa cinta yang mudah dipahami oleh siswa. Pendidik harus mampu memahami bahasa cinta yang cerdas dalam berkomunikasi siswanya.  


Satu Hari Satu Artikel Mudah Kok!

Oleh:  Abdul Azis Muslim* Bagi orang yang tidak biasa menulis rasanya membayangkan judul di atas mungkin menyeramkan. Bagaimana bisa, m...