*Mengabdi di salah satu SMP di Kabupaten Demak.
HIDUP UNTUK BELAJAR DAN MEMBELAJARKAN
"HIDUP HANYA SEKALI MAKA BERMANFAATLAH KEPADA SEKITARMU"
Minggu, 18 Agustus 2024
Satu Hari Satu Artikel Mudah Kok!
*Mengabdi di salah satu SMP di Kabupaten Demak.
Sabtu, 14 Oktober 2023
Teguhkan dan
Kembangkan BTQ Sebagai Mulok Khas Demak!
Oleh : Abdul Azis
Muslim,M.Pd.*
Salah satu Pelajaran yang masuk
kategori muatan lokal (mulok) dengan kekhasan di Demak adalah Baca Tulis Qur’an
(BTQ). Mulok ini sudah sepantasnya diperjuangkan dan dipertahankan serta terus
dikembangkan. Apalagi dengan tantangan zaman yang semakin kompleks dibutuhkan
mapel yang bisa meneguhkan dan memberi pencerahan hidup bagi manusia dalam
mengarungi kerasnya kehidupan di era modern.
Perlu dipahami, sejak tahun 2011
melalui Peraturan Bupati (Perbup) nomor 423.5/290/2011 yang ditandatangi Bupati
Demak saat itu, Bapak Tafta Zani, telah mengakomodir mapel BTQ. Dengan
berlakunya perbup ini maka tentu menjadi penanda bahwa Pelajaran BTQ wajib ada
dan harus diajarkan pada sekolah-sekolah di wilayah Demak.
Dalam perbup tersebut dijelaskan
bahwa penambahan jam Pelajaran BTQ yang disebut sebagai muatan lokal diterapkan
pada setiap jenjang satuan pendidikan dengan durasi waktu satu jam Pelajaran.
Jika membaca ini maka bisa disebut setiap sekolah sifatnya ‘fardu’ mengalokasikan
waktu kegiatan KBM dengan penambahan BTQ tanpa terkecuali.
Namun di lapangan ternyata masih
ditemukan sekolah yang belum sepenuhnya mengajarkan BTQ secara mandiri, sebagaimana diperintahkan
di aturan tersebut. Salah satu permasalahan yang ada dan nyata, yang hingga
saat ini belum mampu diselesaikan adalah masih adanya sekolah negeri yang
mengajarkan BTQ digabung dengan mapel PAI BP.
Maksudnya bagaimana? Begini
penjelasannya. BTQ selaku mulok, posisinya berdiri sendiri karena bersifat lokal
dan diatur dengan perbup. Sementara, dalam struktur kurikulum nasional, posisi mata
Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (BP) berdiri sendiri dengan durasi
waktu setiap minggu diajarkan selama tiga jam. Bahkan perjuangan untuk mendapatkan
tiga jam tidak mudah. Untuk mendapatkannya membutuhkan perjuangan yang
berdarah-darah.
Maka jika masih ada sekolah yang
mengajarkan mapel PAI BP dan BTQ dijadikan satu (include) maka
dipastikan ini melanggar aturan yang ada. Modusnya adalah sekolah mengajarkan
PAI BP yang seharusnya tiga jam dikurangi menjadi dua jam. Dua jam untuk materi
PAI BP dan satu jam diisi materi BTQ.
Kondisi ini tentu saja memunculkan
ketidakmaksimalan dalam KBM. Satu sisi PAI BP juga membutuhkan waktu yang cukup
karena harus menyelesaikan aneka materi yang banyak. Sementara alokasi waktu
yang tersedia hanya tiga jam pelajaran. Jika dikonkritkan di SMP waktu satu jam
Pelajaran adalah 40 menit. Jika dikalikan tiga maka dalam satu minggu hanya PAI
BP idealnya diajarkan selama 120 menit. Jika 120 kemudian dikurangi 40 menit untuk
dimanfaatkan materi BTQ, maka dipastikan ada materi-materi PAI BP yang hilang
atau tidak tersampaikan ke peserta didik karena tergerus materi BTQ.
Permasalahan lain yang tidak
kalah pelik adalah jumlah jam yang diakui oleh Kemenag sebagai pengelola yang
berhubungan dengan sertifikasi guru PAI BP maksimal hanya 2 jam saja, meskipun
dalam kenyatannya mengajar rombel lebih dari dua kelas. Kondisi ini tentu saja menjadi
beban tersendiri bagi guru PAI BP yang ingin mengajar BTQ. Akibatnya di
lapangan ditemukan pengampu mapel BTQ tidak melulu berasal dari latar belakang
guru PAI BP. Terkadang guru mapel lain juga mengampu BTQ meskipun tentu saja
harus memiliki kemampuan baca tulis al-Qur’an.
Dengan melihat permasalahan di
lapangan seperti itu, maka sudah seharusnya MGMP BTQ SMP dan MGMP PAI di Kabupaten Demak bersama-sama
mencarikan solusi atas masalah ini. Ke depan bagaimana jam PAI BP yang ada bisa
dimaksimalkan untuk materi PAI BP saja tanpa diganggu dengan penggabungan
dengan BTQ. Sementara BTQ yang sudah diatur tersendiri di Perbup Demak juga
bisa berdiri sendiri bahkan kalau perlu jamnya ditambah satu jam karena dalam
kenyataannya di lapangan berdasarkan keluhan guru BTQ, waktu satu jam dirasakan
tidak memadai untuk menyelesaikan materi-materi BTQ.
Eksistensi BTQ di sekolah wajib
dipertahankan bahkan kalau perlu ditambah dengan penambahan jam Pelajaran bahkan
dilakukan upaya sistematis untuk memaksimalkan BTQ agar memberikan kekhasan
kota Demak sebagai kota religius bisa dipertahakan dan dikembangkan. Semoga
saja. Insya Allah. Aaamiin.
*Penulis saat ini mengabdi di
SMP Negeri 1 Wedung
Kamis, 23 April 2020
Kuasai Udara dan Darat, Strategi Jitu Pasarkan Buku
Terakhir dengan melakukan pemasaran melalui kegiatan event antara lain seperti event pameran buku, seminar, workshop, tryout, dan sebagainya. Jika semua usaha pemasaran dilakukan diharapkan hasilnya bisa maksimal.
Rabu, 22 April 2020
Pahami Pasar Konsumen, Trik Agar Buku Masuk Percetakan
Selasa, 21 April 2020
Jangan Takut Menulis Meskipun Salah !
Senin, 20 April 2020
Jam Terbang Menentukan Prestasi, Kisah Sosok Gupres Sigit Suryono, M.Pd.
Jumat, 17 April 2020
Motivasi Siswa Maka Sentuhlah Hatinya ! Tips Mengajar Motivator Ala Aris Ahmadi
Satu Hari Satu Artikel Mudah Kok!
Oleh: Abdul Azis Muslim* Bagi orang yang tidak biasa menulis rasanya membayangkan judul di atas mungkin menyeramkan. Bagaimana bisa, m...
-
Oleh : Abdul Azis Muslim Menjadi guru yang dirindukan tidaklah mudah. Sungguh sulit tapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. S...
-
Teguhkan dan Kembangkan BTQ Sebagai Mulok Khas Demak! Oleh : Abdul Azis Muslim,M.Pd.* Salah satu Pelajaran yang masuk kategori mua...
-
Oleh: Abdul Azis Muslim* Bagi orang yang tidak biasa menulis rasanya membayangkan judul di atas mungkin menyeramkan. Bagaimana bisa, m...